08

Mengapa Orang Mudah Percaya Berita Hoax?

Penyebaran berita hoax saat ini sudah terbilang sangat serius. Terbelakangi begitu kuatnya animo masyarakat yang banyak menyebarluaskan. Namun, mengapa berita bohong ini sampai begitu mudah dipercayai?

Alasannya sendiri bisa beraneka. Apalagi ditambah kecanggihan teknologi yang memfasilitasi. Sekali berita ditulis, penyebaran massal dapat dilakukan dalam waktu sekejap. Tak perduli lagi benar tidaknya konten yang dimuat. Sering menjadi tak terkendali, dan adakalanya konfirmasi untuk me-counter berita hoax tiada gunanya lagi.

Baca juga: Jadi Pembaca Cerdas Tangkal Hoax

Tentu bila dibiarkan terus menerus dampaknya bisa mengerikan. Memutus tali pertemanan, merangsang permusuhan antar berbagai kelompok, dan sebagainya. Dalam lingkup yang parah, sering menimbulkan kerusuhan massa dan ketidakstabilan dalam banyak bidang. Politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama sebagai contoh yang terasa nyata.

Hanya membaca judulnya saja

Ternyata salah satunya karena hanya membaca judulnya saja. Pembaca sangat antusias terhadap judul, tetapi tidak membaca keseluruhan isi berita.

Apalagi judul yang ditulis dengan kalimat yang bombastis dan provokatif. Padahal belum tentu ada korelasi yang sesuai antara judul dan konten. Lantas terburu-buru percaya, memberikan dukungan, atau malah menghakimi.

Kurangnya literasi atau pengetahuan

Kurangnya daya literasi dan pengetahuan membuat seseorang mudah percaya pada berita hoax. Tidak mempunyai bekal yang cukup atau sebelumnya tidak pernah mempelajari dasarnya sama sekali. Begitu mendapat informasi akan hal tertentu langsung menyakini kebenarannya.

Hanya percaya sumber tertentu

Hanya percaya sumber tertentu sangat mungkin membuat orang begitu mudah lekat dengan berita bohong. Sebaliknya sumber-sumber lain yang memuat isi berita berbeda ditolak mentah-mentah. Alhasil berita hoax terus dipertahakan dan semakin merajalela.

Baca juga: Cerdas Menyaring Informasi Di Media Sosial

Tidak mau verifikasi

Mereka yang percaya juga tidak mau verifikasi. Seperti membandingkan antara sekian sumber, cek dan ricek, atau konfirmasi langsung pada yang bersangkutan. Semua yang disuguhkan oleh berita hoax adalah kebenaran seratus persen. Tak perlu lagi peninjauan ulang, karena itu memang tak perlu bagi mereka.

Bertepatan dengan opini pribadi

Kepercayaan kuat juga berkorelasi kuat dengan opini pribadi saat membaca berita. Artinya berita seolah mewakili dan mendukung opini diri sendiri. Perasaannya terafirmasi oleh keberadaan berita, kemudian ada keinginan untuk menyebarluaskan.

Namun, sikap ini juga dibarengi dengan tidak mau bertanggung jawab. Bila ada yang menyanggah, hanya akan dijawab, “hanya meneruskan, sumber anonim, serta sejenisnya.”

Tergantung dari banyaknya peredaran di linimasa

Kebenaran berita hoax tergantung dari banyaknya peredaran di linimasa. Semakin sering dilihat, maka semakin mudah dipercayai. Khususnya peredaran berita di media sosial dan aplikasi percakapan. Makin dikuatkan oleh tulisan dan komentar para peramai dunia maya. Pikiran untuk menyetujui pun jadi tak terelakkan.

Terjebak pada tuntutan kepedulian yang keliru

Nyatanya, percaya berita hoax terpengaruh pula oleh ajakan-ajakan yang sebenarnya keliru. Misalnya kalimat akhir yang dibumbui kata-kata untuk menulis amin, mendapat pahala bila membagikan, atau lainnya. Pembaca jadi terdorong untuk percaya dan merasa bersalah bila tidak mengikuti ajakan. Berita bohong jadi bebas melenggang dan menyebar luas tanpa bisa dipertanggungjawabkan. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments