07

Menumbuhkan Leadership pada Diri Anak

Potensi menjadi pemimpin, bukan selalu karena faktor keturunan. Atau tumbuh dengan sendirinya. Kepemimpinan atau leadership juga bisa dilatih dan dibiasakan sedari anak masih dini.

Latihan yang diberikan secara rutin, tanpa harus menyebutnya sebagai training khusus. Tak perlu pula sampai memaksakan atau menargetkan tahapan yang membebani anak. Dengan harapan, daya kemimpinan anak sangat kuat hingga akan selalu menjadi yang terdepan.

Lakukan saja dengan cara-cara yang nyaman dan penuh cinta. Pada keseharian yang menyenangkan. Anak tidak merasa terpaksa. Akan tetapi, tumbuh dari kesadaran dirinya sendiri. Ditambah dukungan orang tua yang selalu ada untuknya.

Baca juga: Manfaat Beraktivitas Jauh Dari Orang Tua

Manfaat melatih leadership pada anak juga bukan semata-mata untuk menjadikannya seorang pemimpin. Latihan ini menjadi bekal baginya untuk senantiasa menjadi pribadi yang unggul, bertanggung jawab, bisa berkompetisi, dan mampu mengatasi masalahnya sendiri. Dalam skala yang lebih besar, latihan ini merupakan akumulasi guna membentuk karakter yang matang.

Kelak, anak tidak terseok-seok atau mengalami kebingungan saat tiba waktunya berpisah dengan orang tua. Apalagi tidak menemukan seseorang yang bisa diandalkan selama ini. Maka, latihan yang selama ini diterima bakal terpakai dan terlihat jelas fungsinya.

Membiasakan dia proaktif

Mari biasakan anak untuk proaktif. Memiliki kesempatan menentukan pilihan sehubungan dengan kebutuhan dirinya. Dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya memilih baju yang akan dikenakan, durasi jam belajar, ikut les atau tidak, dan sebagainya. Lalu berlanjut pada minat yang ingin ditekuni, pilihan profesi, serta masih banyak lagi.

Hargai pula ide-ide, kritik, dan sarannya terhadap sesuatu. Sekalipun terkesan remeh dan tak penting bagi orang dewasa. Rasa percaya diri ikut tumbuh dalam dirinya.

Baca juga: Untungnya Aktif Dalam Senat Mahasiswa

Punya manajemen waktu

Kenalkan pada manajemen waktu. Pembagian rutinitas guna menguatkan kemandirian dan terbiasa memiliki perencanaan. Bantu anak menjalaninya dengan tidak kaku. Ketika rencana atau keseharian menemui kendala, temukan rencana cadangan.

Kompromi dan toleransi

Anak juga perlu mengenal yang namanya kompromi dan toleransi. Langkah ini sangat penting guna meningkatkan kecerdasan emosionalnya.

Tidak terjebak dalam sifat-sifat yang mementingkan egoisme dan arogansi. Anak juga dapat melihat masalah yang diemban orang lain. Termasuk identitas pribadi yang perlu dihargai.

Dengan demikian, tak susah membuatnya berkolaborasi atau bersinergi. Tak segan mengulurkan tangan, serta tak ragu memetik pelajaran dari mereka yang lebih dulu menginspirasi.

Membuat prioritas

Selain manajemen waktu, membuat prioritas juga sangat perlu. Anak perlu mengutamakan apa yang menjadi impian, ditargetkan, dan yang ingin diraih. Sebaliknya, abaikan saja faktor-faktor pengganggu yang tidak memberikan dukungan. Fokus penuh, konsisten, dan tetap bertanggung jawab atas prioritasnya.

Bersosialisasi

Tambahkan kebiasaan untuk dapat bersosialisasi dengan berbagai kalangan. Dari lingkungan keluarga, sekolah, wadah aktivitas lain, juga yang bertebaran di dunia maya. Berikan bimbingan agar sosialisasi tidak menghasilkan pergaulan yang salah. Namun dapat dimanfaatkan sebagai ajang berkegiatan yang positif.

Siapa tahu, manfaat jejaring yang telah dijalin sejak lama, kelak dapat menghasilkan kerja sama yang baik. Serta dapat menunjang karier maupun masa depan yang lebih baik. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments