02

SERUAN ROYO-ROYO UNTUK MENUMBUHKAN SENI INDONESIA

Dunia seni Indonesia dalam perkembanganya kini terbilang maju pesat, seiring meningkatnya apresiasi masyarakat dan pemanfaatan peranti digital. Karenanya, berbagai inovasi baru harus terus digulirkan agar hasil karya seni bisa terus diminati dan melebur ke setiap generasi.

Sebuah harapan diwujudkan oleh Yayasan Kelola, berkolaborasi dengan Dia.Lo.Gue dan seniman kontemporer Eko Nugroho dalam bentuk pameran, pertunjukan wayang dan workshop yang bertajuk Royo Royo. Bertempat di Dia.Lo.Gue Artspace dan Kantor Yayasan Kelola, pameran yang diresmikan pada 24 Oktober 2019 akan berlangsung hingga 10 November 2019. “Seperti konsep one stop shop, para pengunjung tidak hanya bisa menikmati pameran dan pertunjukan Wayang Bocor dari karya Eko Nugroho. Tapi juga bisa mengikuti kelas-kelas workshop dari pengajar-pengajar andal.

Berjoget Koplo bersama dengan para tamu.

Royo Royo

Royo-Royo merupakan program seni baru untuk mengajak masyarakat, para pebisnis, pekerja seni, dan seniman untuk menjadi bagian dari ekosistem seni budaya Indonesia.  “Dalam kurun waktu 20 tahun Yayasan Kelola telah menghidupkan ekosistem seni di Indonesia. Dan pencapaian seperti itulah yang kami harapkan, agar bisa terus membina para seniman negeri sendiri secara berkelanjutan. Sehingga sebagai lembaga nirlaba khusus seni dan budaya, kami tidak hanya menampung para seniman, tapi juga dapat terus menetaskan insan seni Indonesia yang berkualitas sekaligus sejahtera,” ujar Gita Hastarika, Direktur Kelola.

Rusa yang tengah menari riang di hutan.

Harapan yang sepemikiran dengan Engel Tanzil, pemilik Dia.Lo.gue Artspace, “Kali ini tema Royo-Royo kami kedepankan lewat semangat dari gotong-royong yang sebenarnya telah menjadi identitas budaya bangsa ini sejak dahulu. Kalau kita mau seni ini tumbuh subur, maka kita harus berkolaborasi dan saling mendukung. Dengan begitu masyarakat semakin kenal, menyukai dan menghargai hasil karya para seniman Indonesia baik yang tua maupun muda.”

Wajah sang Raja

Wayang Bocor #1

Wayang Bocor merupakan wayang kontemporer. Kolaborasi antara wayang kulit, ketoprak, menyinden, animasi hingga dangdut koplo yang digelar hanya 4 hari di teras belakang Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang. Dalam judul “Permata di Ujung Tanduk”, para penikmat seni disuguhkan alur cerita dari pengorbanan seorang wanita yang dihadapkan pada pilhan sulit, bahkan tidak punya pilihan. Yang akhirnya harus berkorban. Sebuah alur cerita sederhana yang banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Bayang-bayang Shakuntala yang sedih mendapatkan teman rusanya mati dipanah sang Raja.

Namun pengemasan wayang kontemporer yang berlangsung sekitar 45 menit ini terasa singkat, lantaran Eko Nugroho mengolahnya dengan jeli dan peka terhadap tren maupun isu-isu yang tengah merebak di masyarakat. “Memang kalau dulu wayang itu suka membosankan hanya duduk di depan layar putih dan menyaksikan bayangan wayang kulit selama berjam-jam, bahkan bisa semalam suntuk. Tapi di Wayang Bocor, pertunjukan interaktif yang berbobot, santai, penuh canda tawa, namun sarat akan pesan moral mendidik bisa diserap dengan ringan oleh penonton,” ungkap Eko Nugroho.

Perempuan dengan kehamilan yang tidak direncanakan.

Ditambah lagi dengan teknik pencahayaan dan alunan musik yang terasa pas dengan acting para aktor sehingga jalan cerita menjadi lebih hidup dan segar. “Penonton akan selalu kami suguhkan dengan suatu elemen-elemen baru pada setiap pertunjukkan Wayang Bocor. Karena kami tidak hanya menyuguhkan jalan cerita yang lekat dengan kehidupan sehari-hari. Tapi juga layar putih yang kami sajikan juga unik dan banyak, dengan percakapan humor yang sedang menjadi trend topic di masyarakat,” lanjut Eko

Shakuntala bersama Raja.

Info Pameran

Bagi para pencinta dan penikmat seni Indonesia masih bisa menikmati pameran dan memiliki beragam merchandise yang ciamik dan artistik dari perupa Eko Nugroho maupun Wayang Bocor di Dia.Lo.Gue, Kemang. Terbuka juga bagi masyarakat yang ingin mengikuti kelas-kelas workshop seni bermanfaat, yang aktivasi maupun jadwalnya dapat diketahui melalui Instagram @yayasankelola atau E-mail: komunikasi@kelola.or.id (FIF)

 

Foto: @ian_mardi   @7.shots

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments