11

Memahami Gangguan Ketawa Tak Terkontrol Ala Joker

Bagi Anda yang sudah menonton film Joker, tentu tahu bahwa tokoh antagonis tersebut kerap tertawa tanpa bisa dikontrol. Ternyata kondisi tersebut bukan dikarang. Kenyataannya, gangguan tersebut ada dalam dunia kedokteran dan bisa menimpa siapa saja.

Pada dasarnya tertawa adalah hal biasa. Tetapi perlu mendapat perhatian khusus saat seseorang tertawa tanpa terkendali. Terjadi tiba-tiba dan tanpa alasan khusus. Dalam dunia medis disebut Pathological Laughter and Crying (PLC) atau Pseudobulbar Affect (PA). Dan bukan hanya untuk kategori tertawa saja, seseorang juga dapat menangis tanpa henti, atau susah berhenti.

Sikap yang terjadi begitu cepat dan secara tiba-tiba. Mendadak tanpa diduga. Juga tidak harus disertai suatu alasan. Misalnya berada dalam suasana yang menyenangkan, akan tetapi penderita PLC ini justru menangis menderu-deru. Begitu pula sebaliknya. Tidak ada pemicu yang bersifat humor, tapi penderita mendadak tertawa.

Perubahan sikap yang sebenarnya tidak menggambarkan sama sekali suasana hati. Namun lebih tepatnya karena ada gangguan saraf. Orang yang menderita tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Sehingga sering dijuluki labil atau bahkan gila.

Baca juga: Berbagai Jenis Sakit Kepala

Batasan tidak normal

PLC atau PA memiliki ambang batas untuk sikap tawa dan menangis untuk bisa disebut normal. Selanjutnya, ada kondisi tertentu yang membuatnya tidak lagi dikategorikan wajar. Seperti menangis atau tertawa spontan, sangat kuat, dan tidak bisa berhenti. Melakukannya di saat yang tidak tepat dan berlangsung lebih lama dari orang-orang kebanyakan.

Selain itu, pengidap jadi mudah berubah frustasi atau justru marah-marah. Yang paling mudah untuk diamati adalah adanya ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan emosi. Mirip sekali dengan mimik muka yang dimiliki oleh Joker. Selalu senyum padahal suasana hatinya penuh gejolak yang tidak mudah ditebak.

Penyebabnya

Penyebabnya sendiri sampai sekarang belum bisa dipastikan. Sekalipun begitu, ada korelasi kuat terjadinya PLC pada orang-orang yang mengalami cedera atau kondisi neurologis tertentu pada bagian otak. Contohnya saja pernah menderita stroke, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), multiple sclerosis, cedera otak, alzheimer, dan parkinson.

Kondisi-kondisi ini memicu rusaknya korteks prefrontal. Yakni area otak yang bertugas mengendalikan emosi. Akibatnya ada emosi-emosi yang diekspresikan secara berlebihan. Tak ayal, penderita harus menanggung malu dan terganggu aktivitasnya sehari-hari.

Pengendalian

Pada umumnya pengendalian dilakukan melalui rutin meminum obat. Dokter akan meresepkan obat depresan, namun seiring berjalannya waktu terbukti obat tersebut tidak berjalan efektif.

Sejak 2010 lalu, badan pengendalian obat asal Amerika, FDA, menyetujui penggunaan dextrometorphan atau quinidine. Obat terapi ini cukup mampu mengendalikan tertawa dan menangis berlebihan pada penderita multiple sclerosis dan ALS.

Selain dengan obat

Di samping itu, ada saran-saran terapi non-obat yang sebaiknya diikuti untuk mengendalikan tawa dan tangis ala Joker ini. Setidaknya lebih membebaskan tubuh dari efek-efek samping obat yang dikonsumsi berlebihan. Mulai dari mengubah posisi duduk dan berdiri, andai tiba-tiba merasa akan menangis maupun tertawa. Ambil napas dari hidung dalam-dalam, lalu buang lewat mulut. Serta rilekskan tubuh agar perasaan lebih tenang. (LAF)

Baca juga: Tanda-tanda Anda Butuh Liburan
 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments