01

Porsi Keterlibatan Orang Tua Dalam Pengerjaan Tugas Sekolah Anak

Banyak orang tua yang masih bingung bagaimana cara yang tepat membantu anak dalam pengerjaan tugas sekolah. Terlalu banyak ikut campur atau tidak mau tahu tentu bukan solusi yang pas. Jadi, bagaimana sebaiknya?

Porsi keterlibatan orang tua dalam tugas sekolah anak jelas memiliki tujuan. Bukan semata-mata tugas tersebut selesai dikerjakan dan anak bebas dari segala beban yang harus dibawa ke rumah. Melainkan juga menumbuhkan keberdayaan anak itu sendiri, mandiri, dan bertanggung jawab.

Baca juga: Mengapa Anak Malas ke sekolah?

Orang tua tentu boleh saja mendampingi. Plus membantu memecahkan kesulitan. Namun jangan sampai terlalu melibatkan diri, yang mana pada akhirnya membuat anak tidak mengerjakan semuanya sendiri. Atau justru orang tua menyerahkan pekerjaan anak pada guru les. Jelas tidak memecahkan persoalan.

Di samping akan menciptakan relasi ketergantungan. Anak selalu menunggu kehadiran orang lain, baik orang tuanya sendiri maupun guru les, demi membantu tuntasnya pekerjaan sekolah.

Sebagai teman diskusi

Hadirkan keterlibatan orang tua yang sehat. Cara yang pertama ialah sebagai teman diskusi. Duduk bersama anak membahas pekerjaan yang ditugaskan oleh sekolah.

Adakalanya orang tua akan dihadapkan pada ketidaktahuan jawaban yang diperlukan anak. Akan tetapi dengan berdiskusi bersama, perlahan masalah bisa dikupas satu-satu. Atau orang tua bisa membekali dengan pengalaman terdahulu untuk kasus yang sama. Lalu biarkan anak menuntaskan pekerjaannya sendiri.

Memberikan stimulus

Orang tua bisa berperan sebagai pemberi stimulus. Langkah jitu jika menginginkan anak mandiri dalam tugas-tugas sekolahnya. Jadi, tidak langsung memberikan jawaban dengan gamblang. Apalagi menyebutkan dan mendiktekan to the point.

Contoh sederhananya, orang tua bisa menyertakan contoh-contoh hingga anak menangkap sendiri apa yang dimaksudkan. Juga berupa rangsangan-rangsangan yang dapat mengantarkan anak berpikir sendiri.

Membebaskan dalam pemilihan jawaban

Bebaskan anak dalam memilih jawaban yang menurut dia benar. Termasuk pemilihan metode penyelesaian tugas yang paling nyaman bagi dirinya. Jangan memaksa untuk harus mengikuti cara orang tua.

Boleh saja pada langkah awal orang tua memberikan cara yang lazim digunakan. Namun setelahnya, lepaskan anak untuk berkreasi. Bukan tidak mungkin cara yang dia pilih akan lebih efisien dan tepat menjawab persoalan.

Menghargai keputusan anak

Dan jangan lupa untuk selalu menghargai keputusan anak. Terutama keputusan dari pembahasan, pengajuan ide, cara penuntasan, hingga bentuk rupa tugas. Walau dari sudut pandang orang tua dinilai kurang, namun anak sangat membutuhkan dukungan.

Penghargaan di awal akan menuntunnya berusaha lebih baik lagi. Berbeda bila sejak pertama orang tua sudah memberikan stigma negatif, yang ada tugas sekolah sekarang dan seterusnya hanya akan menjadi beban bagi anak. (LAF)

Baca juga: Mengintip Gaya Belajar Anak Zaman Now

 

Foto ilustrasi: Pixabay

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments