25

Panduan Membimbing Anak yang Ingin Jadi YouTubers

Tampaknya kini jadi YouTubers adalah impian sebagian besar anak-anak. Profesi yang sekilas terlihat menggiurkan, mudah dilakukan, namun tetap membutuhkan bimbingan dari orang tua. Bagaimana tepatnya?

Karena restu dan dukungan tidak cukup. Orang tua perlu memberikan fasilitas secara nyata. Dunia digital tidak selamanya aman. Tidak pula memiliki batasan. Konten yang tidak sesuai bagi anak justru bisa berubah menjadi bumerang.

Sebuah perusahaan bernama First Choice pernah mengadakan survei. Mereka mengajak 1.000 anak dengan rentang usia 6 hingga 17 tahun. Hasilnya, sebanyak 34 persen menyebut ingin menjadi YouTubers, sedang satu dari lima anak ingin memiliki kanal sendiri.

Mengapa fenomena menjadi YouTubers begitu besar? Ada banyak iming-iming yang terkesan menjanjikan. Seperti anak tergoda untuk memiliki banyak uang, tenar sebagai artis YouTube, bisa mengunjungi tempat-tempat bagus di dunia, tidak usah bekerja keras, dan sebagainya.

Tetapi bukan berarti berprofesi sebagai YouTubers adalah salah. Profesi ini perlu diperkenalkan dengan pengantar yang baik. Apalagi anak-anak suka menjamah hal baru yang belum tentu pas untuk tumbuh kembangnya. Jadi, terus berikan dukungan serta bimbingan pada mereka.

Diskusi mengenai isi

Saat orang tua mengetahui anaknya berkeinginan menjadi YouTubers, coba tanyakan konten yang dikehendaki. Sebisa mungkin berhubungan dengan bakat dan minatnya. Sehingga anak dalam perjalanan menjadi YouTubers tidak mudah bosan. Sebaliknya malah semakin memperkaya potensi yang dimiliki.

Penting pula untuk mengetahui alasan dibalik cita-cita YouTubers. Apa yang paling ingin diraih oleh anak. Uang, ketenaran, atau apa? Dengan demikian orang tua bisa mengarahkan sejak awal, di samping menyelipkan pesan yang bijak.

Konten sesuai umur dan sehat

Soal konten, pastikan agar sesuai umur anak dan bertema sehat. Layak dikonsumsi oleh anak-anak yang lain, atau secara garis besar diperuntukkan untuk semua usia. Konten yang diunggah anak akan lebih mudah diterima, tidak bersinggungan dengan ranah hukum maupun sosial. Lebih bermanfaat bagi sesama, ketimbang hanya menghasilkan contoh buruk dan cemoohan.

Baca juga: Pilihan Situs yang Ramah Anak

Personalisasi tapi tidak mengganggu privasi

Masih mengenai konten, ada baiknya bersifat personalisasi. Original dari karya anak itu sendiri. Misalnya menjadi koki cilik atau tips bereksperimen dengan barang bekas. Namun jangan sampai mengganggu privasinya. Batasi mana saja yang boleh ditampilkan ke publik, dan mana privasi yang harus disimpan rapat-rapat. Demi kebaikan nama baik anak dan keluarga sendiri.

Awasi selama prosesnya

Awasi terus selama prosesnya. Meski anak telah bisa menentukan tema, membuat video, hingga edit sendiri. Jika Anda tidak bisa mendampingi, mungkin karena kesibukan, coba pantau dari dialog-dialog keseharian. Serta amati dari kanal YouTube-nya langsung. Berikan saran terhadap yang kurang, dan apreasiasi atas jerih payahnya.

Tidak mengganggu prioritas

Profesi YouTubers boleh jalan terus. Tentunya dengan syarat tertentu yang perlu dipegang oleh anak. Seperti tidak boleh mengabaikan kewajiban yang sebelumnya telah dijalani oleh mereka. Sekolah, rutinitas di rumah, dan tidak melanggar aturan-aturan yang telah disepakati dalam keluarga. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments