03

Batasan Ranah Pribadi Di Media Sosial

Menggunakan media sosial ada batasannya. Terutama terkait ranah pribadi yang melekat pada kehidupan sehari-hari. Tidak bisa diumbar begitu saja.

Tentu saja semuanya bukan tanpa tujuan. Membatasi diri dalam mengungkap ranah pribadi di media sosial bertujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Salah satunya adalah jadi target pelaku kriminal. Atau tetap menjaga reputasi diri sendiri. Selain tentunya menghindari penyalahgunaan data oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Maka, pikir kembali sebelum memasukkan kehidupan pribadi di akun Anda. Rawan akibat keteledoran, juga rawan dimanfaatkan. Walau itu akhirnya menjadi bahan guyonan publik, namun adakalanya tetap tidak etis. Khususnya bila menyakut anggota keluarga yang lain, seperti anak-anak.

Hindari penyebutan data lengkap anggota keluarga

Sebisa mungkin tidak menyebutkan data lengkap anggota keluarga sendiri. Contohnya nama lengkap, di mana anak sekolah, kelas berapa, dan sebagainya. Media sosial tidak mengenal pagar pembatas. Jadi siapapun bisa mengakses akun Anda dan menyerap informasi apa saja.

Karenanya ciptakan pagar sendiri sejak awal. Termasuk tidak mengunggah foto-foto yang bernada kurang etis. Atau dianggap syur. Berbahaya diambil tanpa izin dan menyebar tanpa bisa dikendalikan.

Rahasiakan di mana Anda tinggal

Begitu pula untuk urusan tempat tinggal. Tak perlu disebutkan secara gamblang. Apalagi lengkap seperti menuliskan alamat surat. Ranah pribadi yang sama sekali tidak perlu. Andai ada teman yang menanyakan di mana Anda berdomilisi sekarang. Jawab saja secukupnya. seperti nama kota atau daerah terkenalnya.

Tak perlu menyebut rutinitas harian

Sama halnya dengan rutinitas harian. Mereka yang berniat jahat bisa menyusun aksinya berdasar dari penyebutan rutinitas harian Anda. Tak terbayang pula jika mereka nekat mengikuti atau menghadang di tempat Anda biasanya berada. Pikir-pikir lagi sebelum menuliskan semua kegiatan yang rutin dijalani. Lebih baik ganti dengan kalimat-kalimat yang tak transparan. Mengabarkan tanpa menyebutkan ulasan lengkapnya.

Tidak semua masalah perlu diunggah

Setiap orang punya masalah. Tetapi tidak semua masalah perlu diunggah di media sosial. Menyiarkan problema pribadi di media sosial belum tentu mengundang simpati. Barangkali iya di awal saja. Jika terus menerus Anda lakukan, cibiran, caci maki, dan antipati justru terjadi. Apalagi Anda terus menerus menempatkan diri sebagai playing victim. Sulit rasanya mengembalikan media sosial Anda sehat lagi.

Baca juga: Jangan Unggah Ini di Media Sosial Tentang Perusahaan

Secukupnya terkait hiburan dan jalan-jalan

Batasi unggahan bertema hiburan dan acara jalan-jalan di media sosial. Meski hal ini tidak dilarang. Namun sebaiknya Anda batasi sendiri kontennya. Mengapa? Dalam satu sisi mungkin bisa dianggap sebagai bentuk empati pada orang-orang sekitar yang tidak seberuntung Anda. Di sisi lain, supaya Anda tidak dinilai bermewah-mewah lantas menjadi sasaran empuk mereka yang berniat jahat.   

Tahu cakupan pidana dan perdata

Pahami pula mengenai ancaman hukuman pidana dan perdata. Siap menjerat siapa saja yang melanggar aturan terkait isi di akun media sosial. Selidiki terlebih dulu sebelum Anda menyebarkan konten tertentu, meski sudah banyak orang yang melakukannya. (LAF)

Baca juga: Tidak Perlu Baper di Media Sosial

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments