27

Mengapa Remaja Sering Labil

Remaja identik dengan labil. Label yang dilekatkan pada gelora emosi dan aksi. Penyebabnya  bermacam-macam. Hadir dengan sendirinya, seiring pertumbuhan usia mereka.

Dari kelabilan yang sering melanda, membuat remaja dianggap kurang matang. Belum menginjak dewasa, namun tak bisa lagi disebut anak-anak. Banyak kekhawatiran yang muncul saat kelabilan sudah masuk tahap parah. Sebabnya rentan mengarah pada depresi. Juga mengarah pada bentuk-bentuk negatif lainnya.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia Yogyakarta, depresi di usia remaja mencapai 6 persen. Angka yang mesti diwaspadai. Khususnya oleh orang tua dan orang-orang terdekat. Setidaknya dengan mengenali gejala dan perilaku di awal, jalan keluar lebih cepat diambil.

Maka dari itu, labil tak bisa selamanya dianggap lumrah. Gejolak dan sikap temperamental tentu harus segera ditangani. Agar labil terkontrol dalam masa pubernya.

Masa transisi

Masa transisi yang dimaksud adalah peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Tidak berjalan sebentar. Karena dapat dialami sebelum menginjak sekolah menengah hingga masuk kuliah. Ada pula yang masih berkategori remaja ketika usianya sudah lebih dari 20 tahun.

Dalam proses ini, akan terjadi banyak hal. Keingintahuan yang meningkat, ingin berpengalaman di banyak tempat, menolak campur tangan orang tua, menambah pertemanan, dan sebagainya. Jadi tak berbeda dengan perangai uji coba. Hingga ia menentukan mana yang nyaman bagi dirinya sendiri. Sehingga tersemat status labil.

Kompleksitas emosi

Labil juga dilatarbelakangi oleh emosi yang tak menentu. Menggebu-gebu, terlalu aktif, mudah sensitif, marah, menangis tanpa alasan yang jelas, serta lainnya. Terpengaruh pula oleh beberapa hormon. Emosi jadi bercampur aduk dibarengi dengan sikap tak menentu.

Otak dalam tahap perkembangan

Selain itu, otak di fase remaja memiliki perkembangan yang baru. Yakni keinginan adanya kemampuan mengambil keputusan layaknya orang dewasa. Merasa paling benar dan bertahan dengan pilihannya. Ditambah ada sistem limbik di otak yang makin menguatkan emosi dalam setiap pemikiran.

Tidak pandai mengukur risiko

Remaja tidak pandai mengukur risiko. Ingin mencoba hal-hal baru tanpa menimbang dampaknya ke depan dengan matang. Sehubungan kuatnya faktor emosional dalam proses berpikir. Adakalanya telah menyadari iesiko yang harus dihadapi, namun tetap menempuh dengan alasan diri sendiri tidak akan apa-apa. Alias terdapat unsur narsisme di tahap remaja ini.

Ingin eksis atas aksi tertentu

Remaja sangat menyukai eksistensi. Berusaha untuk tampil lebih, berbeda, dan penuh gaya. Beruntung bila ia menemukan wadah yang tepat, tempat mengukir prestasi. Tetapi harus diwaspadai jika eksistensi dilakukan lewat jalur yang tak sesuai atau melanggar norma. Bibitnya harus dikenali sejak awal, serta arahkan ke yang lebih bermanfaat tanpa harus meniadakan minatnya.

Ingin coba-coba karena merasa berdaya

Remaja memiliki kecenderungan untuk coba-coba karena merasa berdaya. Misalnya berani mencicip ganja karena merasa mudah mengelabui orang tua dan tidak akan ada efek apa-apa. Tidak seperti temannya yang ketahuan. Oleh sebab itu, terus jalin komunikasi dan pengawasan yang wajar. Pasalnya orang tua tetap teman yang terbaik kapan saja. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments