25

Jenis kriminal yang perlu diwaspadai turis

Sepertinya, di manapun Anda berada harus senantiasa waspada. Tak terkecuali saat wisata atau ketika menjadi turis. Kriminal hadir dalam berbagai rupa. Tak mengenal waktu, juga bisa menyasar siapa saja. Turis lokal maupun mancanegara.

Efeknya dari kehilangan barang sampai membuat wisata tak lagi merasa nyaman. Ada gangguan riil yang mengancam. Bahkan sebagian menimbulkan trauma pada pengunjung. Ogah kembali dan mengalami perlakuan serupa.

Mereka tak lagi peduli apakah Anda pergi seorang diri atau dalam rombongan. Tinggal mainkan trik dan meraih untung instan, mesti tak halal. Jadi, pasang alarm agar wisata aman terkendali.

Kecopetan

Kecopetan seringkali terjadi dan seolah dianggap lumrah. Terlebih di waktu libur tiba dan destinasi wisata padat pengunjung. Satu dan yang lain mudah menjadi sasaran. Khususnya bagi yang kurang peduli dengan penempatan barang-barang pribadi. Atau terbuai oleh orang baru yang mengajak kenalan. Namun ternyata berkedok untuk mengambil barang berharga tanpa disadari.

Perampasan barang

Ada pula aksi kriminal yang dilakukan terang-terangan. Yakni perampasan barang atau perampokan. Dengan ditodong, lantas barang direbut dan dibawa kabur. Biasanya terjadi di tempat sepi dan pengunjung sedang sendiri. Karenanya kenali baik-baik bagaimana karakter tempat wisata beserta isu-isu yang melekat di dalamnya.

Parkir tanpa karcis resmi

Pembawa kendaraan kadang harus merugi karena mesti merogoh koceh lebih banyak untuk membayar parkir. Padahal tidak ada tiket resmi yang menyebut angka secara transparan. Petugas parkir, yang tergolong liar ini, seenaknya meminta dan setengah memaksa. Daripada terjadi masalah dan bayangan kekhawatiran, uang pun diserahkan.

Dipaksa membeli barang

Banyak turis asing maupun lokal yang menulis dalam blog mengenai pemaksaan untuk membeli barang. Perlakuan ini mereka alami saat bertanya atau sekadar melihat-lihat. Anehnya, langsung disuruh membayar dengan harga tak wajar oleh pedagang. Padahal bila dicermati lagi, kualitas barang tidak sepadan dengan biaya yang begitu tinggi.

Meminta imbalan atas jasa yang tidak diminta

Terkesan lucu, namun ini juga kerap terjadi. Bagaimana seorang turis atau pelancong tanpa tahu menahu diminta membayar jasa tertentu. Walau jelas tidak ada permintaan di awal. Trik ini dimainkan oknum dengan mengikuti terus gerak pengunjung, sambil berbasa-basi, dan diakhir meminta balas jasa. Hati-hati jika Anda sendiri yang mengalaminya. Waspada dengan mereka yang menawarkan diri sebagai tour guide atau terus menguntit di sekitar. Tolak saja dengan mengatakan Anda bisa berjalan-jalan sendiri.

Harga selangit untuk seporsi makanan

Waspada pula saat Anda ingin kulineran di area wisata. Terkecoh, terkejut, dan merasa tertipu, tak bisa berbuat apa-apa. Karena makanan sudah habis sedang pembayaran wajib dilakukan. Tetapi angkanya sungguh fantastis. Oleh sebab itu, pastikan Anda tahu harga makanan per porsi sebelum memesan.

Sumbangan memaksa

Loloskan diri dari pengajuan sumbangan yang memaksa di tempat wisata. Apapun tujuannya dan fungsi sumbangannya. Biarpun pelaku mengatakan seikhlasnya saja, namun tetap saja harus memberi. Terkadang tidak hanya sekali terjadi. Di satu tempat bisa sampai berkali-kali. Otomatis seperti memalak orang tapi terkemas bahasa yang santun. Jadilah turis yang cerdas agar tidak jadi makanan empuk para pelaku kriminal. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments