07

Aman Dan Damai Membawa si Kecil ke Toko Mainan

Toko mainan seringkali hadir bak buah simalakama. Di satu sisi dibutuhkan sebagai media hiburan dan edukasi anak. Tetapi di sisi lain juga problema besar bagi orang tua. Tentu tak bisa begini selamanya. Temukan jalan tengah sebagai solusinya.

Solusi untuk mencegah masalah-masalah yang seringkali menghampiri saat anak berada di toko mainan. Sebut saja memaksa orang tua membelikan mainan teranyar, menangis kencang, tak mau pergi sebelum membeli, dan sebagainya. Sedang tak membelikan bukan berarti tak ada uang. Orang tua harus bertahan dengan sikap anak yang memaksa demi kebaikan anak sendiri di masa mendatang. Menuruti segala kemauannya justru mendatangkan masalah tersendiri.

Seperti membuat anak tak terlatih untuk membedakan kebutuhan diri sendiri atau sekadar keinginan sesaat. Asal meminta tanpa mau mengerti kondisi orang lain, yakni orang tua. Di sisi lain masih banyak orang tua yang langsung saja mengabulkan permintaan. Dengan alasan tak mau repot oleh ulah anak. Ditambah khawatir akan komentar negatif dari orang lain.

Tetap anggap toko mainan sebagai sahabat. Bukan musuh utama yang harus selalu dihindari demi keamanan dompet. Buat situasi yang menguntungkan bagi Anda dan anak. Meski tawaran dari toko mainan begitu menggiurkan.

Kesepakatan sebelum datang

Langkah pertama ialah mengajak anak membuat kesepakatan. Ajakan yang perlu dilakukan sebelum mendatangi toko mainan. Sebutkan kapan anak boleh membeli dan batasan harga. Misalnya hanya sebulan sekali atau durasi lainnya. Bila perlu, tulis lalu tempelkan di tempat strategis di rumah. Ulangi berkali-kali, terutama beberapa saat sebelum langkah kaki sampai di pintu toko.

Menikmati tanpa harus membeli

Jelaskan pula pada anak, pergi ke toko mainan tak harus membeli saat itu juga. Anak bisa menikmati sembari memperhitungkan berapa harga yang mesti dibayar. Ketika uang belum mencukupi, ia harus belajar menabung terlebih dulu. Atau menjadikan toko mainan sebagai referensi ide. Mungkin bisa dibuat sendiri dari barang-barang tak terpakai di rumah.

Kompromi

Namun tak selamanya harapan berjalan lancar. Tetap saja anak memaksa dan menangis sejadi-jadinya. Bila sudah begini, untuk sementara biarkan dia sendiri. Setelah cukup tenang, baru ajak bicara. Mengingatkan akan kesepakatan dan kompromi kembali. Memang tidak mudah dan harus memakan waktu yang lama. Tetapi dampaknya lebih sehat dibanding langsung memberi restu untuk setiap item mainan yang menarik di mata anak.

Tepati janji bersama

Di sisi lain, tepati janji jika memang waktunya telah tiba. Jangan hanya meminta anak patuh pada aturan, orang tua juga perlu melakukan hal yang serupa. Penuhi dan bebaskan anak memilih mainan yang dia suka, asal tidak keluar dari koridor perjanjian.

Apresiasi atas kerja samanya

Kelak, andai anak bisa mengindahkan kesepatan yang telah dibuat, ia patut menerima apresiasi. Berupa pelukan dan ucapan terima kasih. Sebagai balasan atas kerja samanya yang positif. Meski terkadang anak tetap berat hati tidak membeli. Namun berkat adanya apresiasi, setidaknya anak merasa dihargai dan didukung sepenuhnya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments