31

Bahaya Mengintai Saat Anak Menonton Tak Sesuai Usia

Tidak semua film yang tersaji di bioskop bebas untuk ditonton. Khususnya bagi kalangan muda, yakni anak-anak. Ada batasan dan peraturannya. Sekalipun tidak berkekuatan hukum, ada baiknya orang tua tidak mengabaikan persoalan limitasi umur ini.

Mengingat dampaknya akan dirasakan oleh anak itu sendiri. Termasuk orang tua juga mesti menanggung bila sampai terbilang parah. Film yang seharusnya menjadi hiburan dan media edukasi, nyatanya tidak meninggalkan kenyataan sesuai harapan. Akibat tidak menghiraukan batas usia.

Panduan mengenai umur sendiri sebenarnya sangat mudah didapat. Tertera jelas di tiap label film. Anda bisa melihatnya langsung di situs internet atau bagian penjualan tiket. Mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No 18 Tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film (LSF), yang menyebutkan ada empat kategori. SU atau semua umur, 13+ (13 tahun keatas), 17+ (17 tahun keatas), dan 21+ (21 tahun keatas). Meski SU ditujukan untuk semuanya, namun kontennya harus tetap ramah pada anak.

Dengan berbekal aturan ini, pikir lagi sebelum mengajak anak ke bioskop. Jangan terkecoh atau terjebak, hanya karena dikemas dalam kartun, animasi, dan superhero pasti boleh ditonton oleh anak-anak. Lihat kembali berapa usia yang diizinkan dan berikan tontonan yang ideal bagi dunianya.

Tak bisa menikmati dan mengerti

Film yang memang tidak dibuat untuk anak-anak, cenderung tidak akan bisa dinikmati oleh mereka. Apalagi dimengerti. Dari jalan cerita, adegan, dialog sepanjang film, sampai tata suara yang dianggap tidak bersahabat. Yang ada justru mereka jadi rewel dan ogah duduk berlama-lama.

Trauma

Bahaya lainnya adalah anak jadi trauma. Terkejut berlebihan dan tidak siap dengan apa yang tersaji di depan. Plus suara menggelegar dan ruangan yang gelap makin menambah daya takutnya. Biasanya terpicu oleh film yang penuh atraksi kekerasan. Tidak tertuju padanya, akan tetapi anak serasa merasakan tempaan karakter secara langsung. Otomatis membuatnya takut dan ngeri.

Memberi makna yang salah

Dampak berikutnya yang harus dikhawatirkan orang tua jika anak sampai memberikan makna yang salah pada film. Contohnya saja anak melihat film yang penuh dengan adegan syur. Bisa jadi dia akan bersikap biasa saja. Tapi bisa pula anak memberikan interpretasi yang berbeda. Misalnya menilai hubungan seksual bebas secara salah kaprah. Padahal sejatinya tidak demikian.

Berpotensi meniru yang tak patut

Anak juga rentan meniru yang seharusnya tak patut ditiru. Mendambakan semirip mungkin dengan konten film, serta idolanya. Tergiur ingin mencoba narkoba, berkelahi supaya tampak jantan, mulai merundung teman, hingga tergoda seks bebas tanpa pengaman. Sekalipun ada pesan moral yang terkandung, tetap tak tertangkap oleh anak. Sehubungan dengan nalar dan pencapaian daya literasinya.

Mengganggu

Tak bisa menikmati, lalu mengeluarkan suara tangis, dan kemudian mengganggu. Penonton lain terusik dan ketenangan perlahan sirna. Sementara mungkin yang lain masih bisa mengerti, tapi bila berjalan sepanjang film tentu rasa toleransi tidak ada lagi. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments