24

Manfaat Beraktivitas Jauh dari Orang Tua

Berikan izin seluas-luasnya saat anak memiliki agenda yang jauh dari Anda. Kesempatan yang bisa memberikan manfaat luar biasa. Pada tumbuh kembangnya, juga pada kepribadiannya.

Salah satu contohnya, aktif mengikuti perkemahan Pramuka. Semalam atau lebih tidur dalam tenda di alam terbuka. Contoh lainnya adalah bergabung dengan klub yang mengharuskan anak tinggal sekian lama di tempat tertentu selama libur sekolah.

Tentu dengan disertai beberapa syarat. Ada pembina, misalnya guru kelas atau pengawas yang tetap. Terjadwal dengan pasti seluruh rincian kegiatan berikut waktu pelaksanaan hingga akhir. Orang tua tetap bisa mengadakan komunikasi, walau tak tertatap muka secara langsung. Dengan demikian, membiarkannya pergi sesaat tidak terbayangi-bayangi perasaan khawatir berlebihan. Anak tuntas menjalani agenda, orang tua lega, manfaatnya terasa.

Belajar mandiri

Tanpa orang tua, mau tak mau membuat anak bersiap untuk menjaga diri. Meski ada fasilitas dan bantuan dari panitia kegiatan, anak tetap harus belajar memenuhi kebutuhannya. Mengatur setiap detik agar berguna dan memastikan segalanya baik-baik saja. Berlatih menjadi manajer andal dan terangsang untuk menjadi pribadi yang mandiri.

Keluar dari zona nyaman

Kesempatan berjauhan dari orang tua juga menjadi momen melangkah keluar dari zona nyaman. Jika sebelumnya anak tinggal menerima dan meminta, kini ia harus mengupayakan sendiri.

Sangat mungkin diawal-awal anak tidak terbiasa. Merasa tersiksa dan susah payah. Namun berikan pesan padanya untuk bertahan. Beradaptasi menghadapi hal-hal baru. Menyesuaikan diri dengan sebaik-baiknya. Bukan menyerah, tapi menikmati yang sedang tersaji.

Sigap menaklukkan tantangan

Ya, anak yang belajar jauh dari orang tua, juga belajar untuk menaklukkan tantangan. Sigap memutuskan jalan keluar begitu masalah datang. Tak takut mengambil risiko, meski terkadang harus mengorbankan energi serta waktu lebih banyak. Tak langsung gentar atau undur diri, tapi lebih dulu menimbang langkah untuk maju. Pada akhirnya, anak cenderung lebih survived.

Lebih menghargai segala yang berbeda

Kondisi yang berbeda juga tak terhindari. Segala sesuatu yang berbeda sangat mungkin menimpanya. Bergesekan, bersinggungan, dan merasakan ketegangan. Adakalanya menentang, adakalanya menerima. Adakalanya pula mengambil yang positif, dan mengabaikan yang negatif.

Di saat anak belajar atas sesuatu yang berbeda, anak juga mulai bersikap yang tepat. Boleh jadi awalnya emosional dan terheran-heran. Penuh pertanyaan serta sanggahan. Akan tetapi lama kelamaan anak juga belajar untuk menentukan sikap yang lebih bijak.

Tangguh dan bertanggung jawab

Dan, terpenting anak juga mengenal ketangguhan dan tanggung jawab. Kedua hal yang kelak akan merangsang jiwa kepemimpinannya di manapun berada. Kelak, ia akan sering diandalkan dalam banyak hal. Potensi yang tumbuh berkat aktivitas yang dijalani dari sekarang.

Bersyukur atas apa yang dimiliki

Di sisi lain, anak tidak selalu berada dalam kondisi yang sama. Seperti layaknya di rumah atau lingkungannya sehari-hari. Mungkin lebih baik atau justru lebih buruk dari yang sering ia alami. Membuatnya bersyukur dan lebih menghargai dengan apa yang dia miliki. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments