23

Campur Tangan Keluarga Besar Yang Tak Disukai Pasangan Baru Menikah

Pasangan yang baru menikah boleh berbahagia. Namun juga harus waspada dengan campur tangan keluarga besar. Tantangan yang tidak mudah. Beragam jenisnya dan harus ditaklukkan. Semata-mata agar kebahagiaan selalu mengiringi dalam usia pernikahan.

Apalagi sebagai dua insan yang sama-sama baru belajar membina hidup baru berdua, peran keluarga yang terlalu dominan justru bisa jadi penghambat. Keduanya terhalang untuk menemukan titik temu dari perbedaan karakter dan kebutuhan. Semuanya terkendali dalam tangan-tangan keluarga dan harus menunggu komando dari mereka. Tidak memiliki suara sendiri.

Dampaknya harus diwaspadai. Pertengkaran sehari-hari dapat terus terjadi. Baik di antara pasangan itu sendiri, atau terarah pada anggota keluarga yang suka ikut campur. Konflik yang menjauhkan harmoni dan ketentraman. Bukan nuansa kekeluargaan yang dirasa, melainkan merasa menikah justru mengundang bencana.

Mengatur tempat tinggal

Disadari atau tidak, banyak mertua atau keluarga besar yang merasa berhak mengatur tempat tinggal pasangan baru menikah. Tidak lagi sekadar bertanya, tapi terkesan memaksa.

Misalnya meminta pada anak dan menantu untuk tinggal serumah. Dengan berbagai alasan yang terlalu mengikat dan memberatkan. Padahal mungkin saja mereka sudah merencanakan hunian tersendiri. Akibatnya sejak awal, pasangan tidak bisa memutuskan apa yang seharusnya menjadi kenyamanan bersama.

Menentukan sumber pendapatan

Pada akhirnya, tempat tinggal juga menentukan pendapatan. Mungkin saja karena lokasi rumah yang tidak memungkinkan, salah satu pasangan harus merelakan pekerjaan. Beralih pada profesi lainnya.

Di samping banyak pula keluarga yang memaksa agar mengikuti jejak karier yang sama. Akibat tidak yakin dengan nilai upah atau masa depan pekerjaan yang saat ini sedang dijalani oleh pasangan baru.  

Membahas kebiasaan yang berbeda

Setiap orang tentu berbeda. Demikian pula dengan karakter dan kebiasaannya. Namun apa jadinya jika semuanya dituntut untuk sama? Terlebih asal muasal terus digunjingkan.

Jelas tidak menyenangkan. Bak orang yang tidak memiliki kemerdekaan sama sekali. Semuanya harus terukur dan menyesuaikan selera keluarga besar.

Mempertanyakan soal keturunan

Lalu perihal keturunan. Terus dipertanyakan sejak hari-hari awal pernikahan. Awalnya mungkin hanya diutarakan sebagai pertanyaan dan guyonan. Lama kelamaan berubah jadi tuntutan.

Selanjutnya pasangan merasa tidak percaya diri, benci pada kemampuan diri sendiri, dan diikuti masalah lainnya. Termasuk tidak mensyukuri usia pernikahan yang telah dijalani.

Mengkritik pola asuh anak

Campur tangan juga sering terjadi pada pola asuh anak. Keluarga merasa lebih tahu dan berhak menentukan segala sesuatu yang terkait tumbuh kembang anak. Terus menerus meluncurkan kritikan jika pasangan menerapkan aturan-aturan yang berbeda. Efeknya, relasi antar anak dan orang tua bisa terganggu.

Menuntut pemberian  

Meminta pertolongan merupakan hal yang wajar. Namun saat sudah sampai pada taraf berlebihan, alias menuntut pemberian, sudah bukan hal yang sehat. Terutama terkait materi.

Apalagi pasangan yang baru menikah kerap dihadapkan pada kebutuhan yang tidak ringan. Menuntut pemberian dari mereka sama halnya dengan menutup kesempatan untuk lebih berdaya dan sejahtera. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments