09

Pasangan Gemar Belanja Online? Lakukan Ini

Punya pasangan yang gemar belanja online, apalagi sudah masuk taraf ketagihan, adalah masalah besar. Hobinya bisa menimbulkan berbagai dampak tak membahagiakan. Segera ambil langkah taktis.

Sebagai antisipasi menyelamatkan finansial. Serta menyelamatkan relasi dari kebiasaan yang tak baik ini. Karena belanja bukan didasarkan kebutuhan bersama. Melainkan ego sesaat. Atau tergiur iming-iming menariknya gambar yang terpampang. Termasuk khawatir tertinggal update produk yang paling teranyar. Tidak terpuaskan apabila tidak mengadakan transaksi.

Akhirnya yang merugi bukan hanya pasangan. Imbasnya bisa dirasakan orang-orang di sekitar. Berikut Anda dan keluarga. Kesehariannya hanya dipenuhi dengan keinginan berbelanja. Sedang kemanfaatannya tidak bisa optimal. Terkesan hanya membuang-buang uang.

Belum lagi kemungkinan agenda rumah tangga yang harus ditunda. Akibat besarnya pengeluaran yang telah digelontorkan untuk mewujudkan belanja online. Jadi, daripada terus menerus berlangsung tanpa kontrol, luncurkan jalan keluar. Solusi yang tercipta dan disetujui bersama-sama. Sangat mungkin berhasil bila diiringi niat sungguh-sungguh dan konsistensi dari pasangan.

Membuat kesepakatan

Tidak ada gunanya hanya mengutarakan perasaan. Meski pasangan dibuat mengerti dengan apa yang Anda rasa. Ketagihan ini harus dihentikan dengan tindakan nyata. Tepatnya dengan membuat kesepakatan berdua.

Di mana intinya berisi agar kebiasaan belanja berjalan lebih sehat. Menekan gesekan pada faktor-faktor yang lain, utamanya pada keuangan rumah tangga.

Misalnya saling bersepakat belanja online tetap berlaku di waktu-waktu tertentu. Boleh membeli hanya saat barang tersebut benar-benar tidak bisa digantikan dengan barang yang telah ada di rumah. Serta boleh memesan saat ada uang sisa dari anggaran tertentu, umpamanya.

Anggaran khusus

Kesepakatan lain yang bisa dicoba adalah dengan menawarkan anggaran khusus. Dana yang sengaja dialokasikan untuk berbelanja di dunia maya. Jika ternyata pemasukan tidak mencukupi, ajukan saja saran agar pasangan mencari penghasilan tambahan. Sehingga hobinya tetap berlangsung.

Terpenting, tidak sengaja menyedot sekian persen dari kebutuhan bulanan dan tabungan. Juga tidak berutang. Sebab sudah pasti ke depan keuangan akan semakin kacau balau.

Jadwal tersendiri

Di samping anggaran, pasangan juga perlu menahan diri dengan membuat jadwal tersendiri. Melihat lapak pedagang bisa kapan saja. Akan tetapi waktu pembelian hanya bisa terjadi di waktu tertentu. Plus tetap memberlakukan harga maksimal yang boleh ditebus. Seperti berbelanja ketika hari belanja online nasional (harbolnas), midnight sale, dan sebagainya.

Pembayaran perlu sepengetahuan Anda

Dan, tak perlu ragu memegang kendali seluruh kartu pembayaran. Baik kartu kredit dan debet. Pasangan harus mendapat persetujuan Anda sebelum mengirim sekian rupiah. Terkesan kejam tetapi lebih baik daripada pasangan langsung mentransfer tanpa perhitungan. Apalagi mereka yang sudah addicted tidak mudah mengubah diri dalam waktu sekejap.

Mengubah hobi sebagai profesi

Jika memang belanja online sudah menjelma sebagai kebiasaan, dan tak bisa dihindari lagi, ubah hobinya sebagai profesi. Justru mengubah konsep belanja yang menghasilkan uang, tak lagi yang sebaliknya. Pasangan bisa menawarkan jasa bagi orang lain yang ingin berbelanja namun tak punya kesempatan. Hobi tersalurkan, uang dalam genggaman. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments