03

Berkaca Pada Plus Minus Sistem Zonasi

Dunia pendidikan kembali bergejolak. Akibat berlakunya sistem baru, zonasi. Pro dan kontra tertuang dalam beragam komentar. Sebelum ikut tersulut emosi, coba tilik dulu plus minusnya.

Sebab harus diakui, penyelenggaraan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini tidak bisa memuaskan semua pihak. Ada sebagian yang diuntungkan, banyak pula yang merasa dirugikan dan akhirnya keberatan.

Zonasi sendiri tidak lagi melihat nilai akhir ujian nasional. Melainkan kedekatan jarak rumah dengan sekolah. Sekolah harus mengutamakan 90 persen siswa baru yang berada di sekitar lokasi sekolah. Baru kemudian mempertimbangkan faktor keluarga ekonomi tidak mampu (KETM), penghargaan maslahat guru dan anak berkebutuhan khusus (ABK), jalur prestasi, dan jalur nilai hasil ujian nasional (NHUN) pada posisi terakhir. Hingga kini jalur jarak ke sekolah masih menjadi favorit para orang tua mendaftarkan anak-anak mereka.

Tujuannya untuk menghapus stigma favorit pada sekolah tertentu. Juga meratakan kualitas pendidikan di antara sekolah-sekolah yang ada.

Namun agaknya tujuan tersebut belum sepenuhnya bisa diterima. Baik sehubungan dampaknya langsung pada anak didik, maupun efek jangka panjang. Di mana dikhawatirkan akan meninggalkan jejak buruk pada dunia pendidikan disini.

Efek jarak dekat

Zonasi yang menjunjung tinggi jarak tentu menguntungkan bagi yang tinggal dekat sekolah. Tak perlu waktu lama sampai ke tujuan setiap hari. Mengurangi risiko macet panjang, turunnya biaya transportasi, dan termasuk berkurangnya polusi. Bahkan siswa diharapkan lebih fresh sampai di sekolah dan tidak lagi terbayang-bayangi risiko telat yang keseringan.

Jika dirunut terus, faktor kedekatan juga masih memunculkan dampak baik lainnya. penelitian di Inggris juga menyebutkan, sekolah yang dekat dengan rumah membuat para orang tua lebih mudah mengawasi anak-anaknya. Tidak terpengaruh lingkungan yang buruk akibat kontrol kuat dari masyarakatnya.

Berdaya saing sama

Tujuan sistem zonasi yang berkeinginan menghapus label sekolah favorit, di sisi lain akan memberikan daya saing yang sama. Para siswa yang berprestasi atau bernilai akademik tinggi tidak terkonsentrasi di satu tempat. Tapi menyebar dan ikut mengembangkan potensi sekolah. Tentunya dalam hal ini tetap membutuhkan dukungan nyata dari sekolah dan orang tua. Khususnya berupa fasilitas dan transfer ilmu yang memadai.

Masih ada pasal karet

Sayangnya, sistem zonasi dianggap masih mengandung pasal karet. Yakni aturan yang menimbulkan makna ganda dan rawan disalahgunakan. Sebut saja, misalnya, domisili siswa minimal enam bulan di daerah tertentu. Apakah ini dimaksudkan migrasi resmi atau hanya perpindahan sementara saja?

Berbedanya interpretasi ini dimanfaatkan oleh beberapa oknum, dengan memalsukan kartu keluarga, menitipkan nama anaknya pada daftar keluarga lain, serta lainnya.

Murid sedikit, guru justru terlilit

Zonasi juga menyisakan satu persoalan lain. Sekolah di sekitar kawasan padat pendudukan, akan kebanjiran pendaftar baru. Sedang sekolah yang jauh dari pemukiman akan sepi peminat. Otomatis hanya memiliki murid sedikit. Lantas berpengaruh pula pada jam mengajar guru, yang ke depan membawa konsekuensi tiadanya tunjangan sertifikasi. Meski guru-guru di sekolah memiliki potensi luar biasa dan andal mengajar. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments