12

Pengganti Kata “Jangan” Pada Anak

Adakalanya penerapan larangan pada anak tidak terhindarkan. Umumnya disampaikan dengan kata jangan atau tidak. Di mana kerap menimbulkan penolakan pada anak itu sendiri. Coba ganti dengan cara yang lain, agar pelarangan juga jadi media belajar.

Yakni melalui cara yang, secara tidak langsung, mengajarkan kenapa pelarangan berlaku baginya. Tepatnya menumbuhkan kesadaran pada diri anak itu sendiri. Bukan sekadar melarang saja. Anak perlu memahami esensi dan mematuhi. Selebihnya, mampu mengenali manfaat atau efek terhadap dirinya.

Sebab seringkali dan tanpa disadari, orang tua saat melarang, tidak menyadari tujuannya apa. Asal melarang, namun tidak berpikir dampak pada anak. Baik kata-kata lisan yang diucapkan maupun gestur tubuh yang diperlihatkan. Mungkin dari pihak orang tua tidak ada masalah. Tetapi bagi anak merupakan problem besar. Keinginannya tidak didengar, tanpa ada feedback sehat dari orangtuanya.

Sehingga bukan tidak mungkin, suatu saat yang dilarang sekarang ini akan dilakoni oleh anak secara sembunyi-sembunyi. Merahasiakan serapat-rapatnya dari orang tua sendiri. Akibat anak tidak menangkap makna utama.

Empati pada perasaannya

Mari berempati pada yang dia rasa. Perasaan kuat berharap mendapat pengabulan dari orang tua. Tidak ubahnya seperti orang dewasa menginginkan sesuatu. Namun terhalang oleh kondisi tertentu, yang menyebabkan harapan tidak bisa diwujudkan saat itu juga. Tidak enak kan rasanya?

Anak-anak juga merasakan hal yang sama. Tunjukkan terang-terangan bahwa Anda peduli dan mengerti. “Pasti tidak enak ya tidak bisa membeli mainan sekarang?”, adalah salah contoh ungkapan pengganti yang bisa digunakan. Dengan mendengar kalimat sejenis ini, anak cenderung lebih menerima dan merenungkan kembali permintaannya.

Minta anak menyakinkan orang tua

Pinta pada anak untuk bisa menyakinkan orang tua. Alasan yang menjadi basis utama. Sebuah kebutuhan, hanya ingin punya, berdasar perjanjian yang dibuat bersama, atau untuk apa? Orang tua kemudian dapat menimbang dari opini yang dikemukakan. Plus anak belajar mengendalikan hasrat dan ego. Tidak bersikap memaksa dan tantrum.

Beri orang tua waktu berpikir

Selain itu, minta waktu untuk berpikir. Daripada terburu-buru melayangkan keputusan berupa ucapan jangan. Cukup selama satu jam atau menunggu hingga esok hari. Sembari waktu berjalan, anak dapat merenung tentang keinginannya tersebut. Menguntungkan jika hanya keinginan spontan. Saat waktu berpikir habis, anak sudah tidak menginginkan lagi.

“Iya, tapi nanti”

Cara lainnya ialah tidak mengabulkan sekarang, tapi nanti. Misalnya berkata, “iya, tapi nanti ya.” Sambil menabung agar mainan terbeli, menunggu liburan tiba, dan sebagainya. Kalimat sederhana yang sebenarnya melarang, tapi yang diingat oleh anak kata “iya”. Merasa dikabulkan walau harus menunggu. Ingat, tetap penuhi janji supaya kalimat tadi tidak hanya janji kosong.

Menguntungkan keduanya

Melarang juga perlu menimbang aspek laba bagi kedua belah pihak. Baik bagi anak dan orang tua. Contohnya orang tua melarang anak memakan menu tertentu dikarenakan alergi. Jika dilakukan anak jadi sakit, orang tua ikut repot. Belum lagi aktivitas sekolah yang harus berhenti sementara. (LAF) 

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEMEDIAKULINER

Comments

comments