15

Melatih Anak Berpuasa

Keluarga menjadi jembatan utama anak-anak mengenal puasa. Mengerti akan makna dan merasakan langsung lapar serta dahaga. Melatihnya pun mudah-mudah susah. Harus tetap konsisten dan penuh kesabaran.

Terutama anak-anak di usia TK dan baru pertama kali menjalani. Puasa bisa menjadi tantangan berat. Keluhan dan tangisan akan menjadi perilaku yang kerap ditunjukkan. Belum lagi tergoda begitu melihat gambar makanan. Baru sesaat melakoni, sudah minta undur diri.

Karenanya orang tua tak perlu memaksa. Bila sedari awal anak sudah dibuat trauma dengan yang namanya puasa, hari-hari berikutnya akan enggan untuk kembali menjalani. Akhirnya, walau mereka tahu puasa itu penting artinya, namun tetap tidak mau mencoba.

Pelatihan tersendat. Bahkan terancam jadi terlambat diberikan. Langkah awal mesti diulang-ulang. Antisipasi agar anak mau menyambut puasa dengan sukacita.

Durasi yang tidak memberatkan

Puasa bagi anak yang belum baligh tidak wajib. Karenanya jangan paksa menjalani satu hari penuh. Beri dia kesempatan jika hanya mampu menjalani selama 3 jam atau setengah hari saja. Selanjutnya dia bisa melanjutkan lagi hingga adzan Maghrib tiba. Terus begitu, sampai anak benar-benar sanggup memenuhi durasi waktu yang sebenarnya selama berpuasa.

Sajikan menu sehat

Menyajikan menu yang sehat akan sangat membantu kelancarannya berpuasa. Khususnya yang berserat tinggi dan bervitamin. Menunjang tubuhnya tetap sehat dan bertenaga. Anda bisa mengemasnya dalam sajian menarik, sehingga anak tertarik menyantapnya.

Berbeda bila menu sudah berkategori tak sehat. Asupan bisa menjadi sumber penyakit. Puasa terhalang dan gagal dilakukan.

Perhatikan riwayat alergi

Perhatikan pula mengenai riwayat alergi. Sebab adakalanya puasa membuat stamina tubuh menurun. Reaksi sensitif terhadap alergi semakin besar. Juga pada anak yang baru sembuh dari sakit dan masih tergantung pada jenis obat-obatan tertentu. Bila perlu Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat solusi yang lebih tepat.

Libatkan saat sahur dan berbuka

Libatkan selalu ketika sahur dan berbuka tiba. Bangunkan dia dan ajak bersantap bersama. Meski tak nikmat menghadapi hidangan atau hanya mengonsumsi dalam jumlah terbatas. Sama halnya saat berbuka. Si kecil bisa dilibatkan dalam proses pemilihan menu, pembuatan makanan, penyajian, dan sebagainya. Sehingga dia senang bisa aktif berkecimpung dan semakin mengenali apa yang sedang dijalani. Sekaligus upaya agar tidak terus menerus merasakan lapar dan dahaga saja.

Beri toleransi

Jika suatu saat anak menunjukkan ketidakinginan berpuasa, coba tanya alasannya. Beri toleransi dan hindari menghakimi. Terlebih langsung memberi label malas, bukan anak baik, dan sejenisnya.

Mungkin anak membutuhkan jeda sebentar sambil mempersiapkan mentalnya kembali berpuasa. Sehingga puasa di hari berikutnya bisa lebih maksimal.

Menumbuhkan kesadaran, bukan sogokan

Di samping itu, selama proses pengenalan dan pelatihan, tumbuhkan kesadaran dari dalam dirinya. Tetapi bukan melalui sogokan atau iming-iming hadiah. Seperti menjanjikan sesuatu bila anak bisa berpuasa sehari penuh.

Anak perlu dikenalkan secara sehat bahwa puasa penting bagi pribadinya. Sebab semua manfaat akan kembali pada diri sendirinya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pixabay

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEBINTARO.KULINER

Comments

comments