08

Bentuk Hukuman yang Sehat Bagi Anak

Memberi hukuman tidak bisa sembarangan. Para orang tua mesti memperhatikan bentuknya. Yang mana sebisa mungkin tetap sehat dan juga mendidik. Sebab hukuman tidak bisa dimaknai sebagai pembuat jera saja.

Anak juga harus dapat mengambil hikmah atau memetik pesan dari mengerjakan sanksi yang diberikan. Misalnya agar lebih berhati-hati ke depan dalam bertindak dan berucap. Serta mengambil hikmah dari proses hukuman itu sendiri.

Walau memang, umumnya ketika anak melakukan suatu kesalahan, spontan memberikan hukuman tidak terhindarkan. Orang tua dengan acuh tak acuh langsung melontarkan perkataan dan aba-aba tertentu. Di mana justru tidak menumbuhkan kesadaran akan laku anak itu sendiri. Justru anak cenderung memilih abai dan menilai orang tua arogan. Bukan tidak mungkin, ke depan kesalahan akan sengaja diulang.

Maka dari itu, meski hukuman datang secara sepihak, bentuknya harus tetap mengedukasi. Serta jangan sampai memberi celaan pada pribadi anak. Sehingga tak timbul rasa malu dan trauma. Sebaliknya, dengan hukuman yang sehat anak merasa tertantang, belajar, dan senang mengerjakan.

Sesuai jenis kesalahan

Pilih hukuman sesuai jenis kesalahannya. Misalnya anak tidak sengaja menumpahkan minuman di lantai. Bentuk yang paling sesuai adalah mengajak anak membersihkan air yang tumpah. Merapikan kembali mainan yang sudah berceceran di mana-mana. Relevan dengan kejadian dan masalah berhasil ditangani.

Jangan memberikan hukuman yang tidak berhubungan sama sekali. Contohnya, tidak membolehkan lagi anak mengambil minuman sendiri, lebih baik minta tolong pada orang lain. Semata-mata agar anak tidak kembali menumpahkan. Anak malah tidak belajar dari kesalahan dan jadi takut mencoba aktivitas yang sama.

Sesuai umur

Timbang kadar hukuman dengan usia anak. Berat ringannya mampu dikuasai oleh tenaga dan nalarnya. Serta berikan contoh jika anak sama sekali belum pernah melakukan. Mungkin merupakan kegiatan pertama kalinya. Jadi anak memahami bentuk hukuman yang diberlakukan. Tidak mengalami kebingungan akan bayangan dan makna mengapa sanksi mesti dijalani.

Ancaman atau lebih baik konsekuensi?

Di sisi lain, ada baiknya orang tua berhenti memberi hukuman sebagai ancaman. Lebih baik ganti sebagai konsekuensi. Tepatnya membuat anak mengerti efek samping dari perbuatan yang ditimbulkan. Hukuman sebagai konsekuensi tidak lain juga solusi riil guna mengatasi masalah. Tidak membiarkan masalah berlarut-larut. Melainkan bergegas mengambil langkah konkret.

Hindari menyebut berulang-ulang

Serta sebisa mungkin tidak menyebut-nyebut kesalahan berulang kali. Barangkali hal itu dianggap biasa. Ada juga yang menilai sebagai hukuman verbal. Tetapi penyebutan ini tidak serta merta membuat anak belajar dari kesalahan yang sudah terjadi. Terlebih bila Anda refleks menyebut di depan umum, tanpa memperhatikan posisi dan kepentingan anak. Lagi-lagi, pikirkan dulu sebelum berucap.

Media pengalaman

Bentuk hukuman yang sehat dan mendidik akan menjadi media anak belajar. Mengambil pengalaman bagi diri sendiri. Dalam berucap dan bertingkah laku pada orang lain, lingkungan, maupun benda-benda di sekitar. Ke depan, bukan lari dari masalah. Tepatnya anak juga belajar bertanggung jawab dan cepat memutuskan jalan keluar. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Pexels

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEBINTARO.KULINER

Comments

comments