03

Menyikapi Fangirling pada Anak

Apakah fangirling itu? Ini adalah fenomena di mana seseorang terlalu menyukai sesuatu atau sosok tertentu. Atau dengan kata lain, mengidolakan sesuatu atau seseorang. Pada dasarnya wajar anak mengidolakan seseorang. Namun tak bisa dipungkiri kekhawatiran yang dirasakan orang tua. Akan adanya dampak negatif yang bisa menyerang anak. Jadi, sebaiknya bagaimana?

Seiring pertambahan umur, idola anak bisa berubah-ubah. Di usia balita anak bisa terkagum-kagum pada orang tuanya sendiri. Begitu memasuki usia sekolah berganti pada tokoh superhero. Terus berlanjut pada kalangan artis, atlet, politikus, agamawan, atau jenis permainan online.

Fangirling sebenarnya istilah yang tertuju pada anak perempuan, tetapi dapat diarahkan pula pada anak laki-laki.

Perhatian anak pada idolanya meliputi banyak hal dan cenderung sangat detail. Mulai dari prestasi, atribut yang sering dipakai, fashion, hobi, makanan favorit, dan sebagainya. Bahkan anak mudah mengingat dan menirukan ucapan-ucapan lisan yang menjadi jargon sang idola.

Tidak hanya itu. Idola dalam titik tertentu dianggap lebih baik daripada orang tua. Inilah efek yang berbahaya dan wajib diwaspadai. Sebab anak tak lagi berpegang pada nilai-nilai dari orang tua. Melainkan terganti dengan budaya baru yang diperkenalkan idolanya. Yang mana belum tentu benar dan bermanfaat.

Orang tua harus sama kenalnya

Jangan berhenti tahu pada nama dan siapa dia. Kembangkan pengetahuan Anda untuk menyelidiki lebih dalam siapa yang diidolakan anak. Upaya untuk mencapai ketenaran, background, isu-isu di media sosial, dan sebagainya. Dengan menyelami lebih dalam, orang tua tidak ketinggalan atau merasa asing dengan tokoh pujaan anak.

Prioritas dan pembagian waktu

Bila memang tak ditemukan masalah, persilahkan saja anak tetap merajut kekaguman. Tetapi dengan membuat syarat. Seperti membuat prioritas dan pembagian waktu yang jelas. Anak tetap perlu mengutamakan waktu belajar di hari biasa. Sedang waktu bersama sang idola lewat gawai atau televisi bisa sepuasnya di akhir pekan. Tetapi tak dilakukan saat berada di meja makan dan saat berbicara dengan anggota keluarga yang lain.

Tentang atribut dan gaya hidup

Buat kesepakatan tentang atribut dan gaya hidup yang boleh ditiru oleh anak. Misalnya gaya hidup idola yang rajin olahraga dan gemar makan sayuran. Namun anak dilarang keras mengonsumsi rokok, narkoba, clubbing bila merupakan kebiasaan idolanya.

Diskusi untuk menghindari efek negatif

Karenanya, agar anak bisa menyaring mana yang sehat dan tidak, ajak diskusi. Sekaligus menumbuhkan kesadarannya mengapa tidak semua perilaku maupun atribut yang menempel pada idola layak untuk ditiru. Jika orang tua hanya menekankan pelarangan tanpa alasan yang jelas, belum tentu anak mematuhi. Justru makin memicu anak mengadopsi tetapi dengan cara diam-diam.

Stop bila sudah obsesif

Segera stop bila perangai anak dalam mengidolakan sudah overdosis. Tidak mengindahkan kesepakatan yang dibuat bersama, terlena oleh sosok pujaan, dan addicted. Tidak bisa lepas barang sebentar saja.

Bila perlu bawa ke psikolog untuk mendapat terapi yang tepat. Selalu dampingi dan berikan kehangatan. Yakinkan pada anak masih banyak bintang idola yang patut dipuja. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO @ETALASEBINTARO.KULINER

Comments

comments