13

Bahaya Sering Membandingkan Anak dengan Temannya

Segera akhiri bila Anda sering membandingkan anak dengan temannya yang lebih berprestasi. Dampaknya bisa negatif dan panjang. Bukan untuk saat ini saja, melainkan terus mengikuti dalam tumbuh kembangnya.

Mungkin orang tua bermaksud memotivasi. Dengan harapan anak kurang lebih bisa meraih prestasi yang sama dengan temannya. Namun seringnya, pembandingan ini dilakukan dengan cara satu arah saja. Alias hanya orang tua yang berbicara. Tidak mengenal tempat, waktu, serta menggunakan bahasa kasar. Orang tua tidak memberikan kesempatan pada anak menerangkan isi hatinya.

Hasilnya bisa berlawanan dengan harapan. Alih-alih anak mendengarkan, terkadang anak sering memilih perbuatan yang sebaliknya. Tidak melakukan apa yang sudah disarankan orang tua agar anak mendapat hasil yang sama seperti temannya. Tidak menganggap penting ekspektasi orang tua, melainkan memandangnya sebagai ambisi semata yang merugikan diri anak secara sepihak. Inilah dampak negatif yang bisa menimpa anak.

Rendah diri, pemalu, dan tidak mudah bergaul

Jangan heran kalau kemudian anak berubah menjadi tertutup. Pribadi yang cenderung mengarah ke pemalu, rendah diri, tidak mudah bergaul, dan sebagainya.  Bahkan sebagian anak menunjukkan gejala apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Tak peduli lagi karena menilai suara atau opininya tak berarti. Sikap-sikap demikian muncul karena tekanan yang muncul terus menerus dari orangtuanya. Bahwa yang berprestasi selalu lebih baik dari yang tidak.

Cemburu dan dendam

Anak juga dapat menilai seseorang yang berprestasi akan lebih disayangi. Mendapat curah kasih sayang lebih dari orang tua. Tidak mendapat omelan atau dibanding-dibandingkan setiap saat.

Karenanya anak jadi mudah cemburu dan memelihara dendam pada mereka yang dirasa lebih unggul dari dirinya. Tidak hanya pada temannya, tetapi juga ditujukan pada saudara kandung. Terutama pada keluarga di mana orang tua tidak bisa mengenali potensi tiap anak yang berbeda. Hasilnya, anak juga mudah sensitif dan sering berpikiran negatif.

Benci pada orang tua

Kebencian pada orang tua kemungkinan besar juga tak bisa dihindari. Anak merasa terbebani dengan segala cita-cita orang tua. Ayah maupun ibu tidak lagi tampil sebagai sosok yang disayangi. Interaksi dilakukan sambil serba lalu tanpa kehangatan. Bukan tidak mungkin anak selalu menghindar, tak ingin berlama-lama dengan alasan tak ingin mendengar banding-membandingkan.

Potensinya hilang

Terus membandingkan prestasi ternyata juga perlahan membuat potensi anak yang sebenarnya hilang. Ia tidak lagi tergugah mengasah bakatnya, sebab sedari awal dinilai tak mampu. Terlebih bila bidangnya belum banyak dilirik oleh banyak orang.

Oleh karena itu, segera hentikan kebiasan membandingkan ini. Sedikit apresiasi dan memfasilitasi bakat anak barangkali bisa menjadi cara baginya meraih prestasi yang tak kalah membanggakan.

Melihat prestasi dari kacamata yang salah

Dan bukan tidak mungkin anak memiliki pandangan lain tentang prestasi. Pandangan yang salah kaprah dan tidak sesuai dengan norma yang berlaku pada umumnya. Misalnya saja berambisi mendapat prestasi dengan cara-cara tak sportif demi bisa membungkam opini orang lain atas dirinya. Atau meraih prestasi untuk menutupi sisi-sisi yang merupakan kekurangannya selama ini. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments