30

Agar Anak Tak Menolak Kehadiran Adik Bayi

Sesungguhnya bukan hanya orang tua yang perlu bersiap-siap menanti kehadiran anak bayi. Sang kakak juga perlu turut bersiap menerima adiknya. Agar kelak tidak ada penolakan dan merasa terduakan.

Fenomena ketidaksiapan kakak memiliki adik sering disebut dengan big sibling blues. Penyebabnya bermacam-macam. Selain faktor karakter anak yang tidak mudah beradaptasi, juga terdapat pengaruh kuat dari keluarga. Terutama keluarga yang dilanda stres berat. Ditambah ucapan bernada mengancam yang diarahkan pada anak. Walau hanya dimaksudkan bercanda. Misalnya, orang tua nanti akan lebih sayang pada adik dibanding dirinya.

Jika tak ingin mengalami anak menolak kehadiran adiknya sendiri, maka bantu dia menerima. Bukankah lebih menyenangkan melihat suasana di rumah lebih damai dan penuh canda tawa? Selain itu, hubungan yang sehat antara kakak dan adik akan berdampak panjang bagi keduanya.

Beritahu tentang kehamilan

Segera beritahu anak begitu mengetahui kehamilan. Bagi anak yang berumur di bawah 4 tahun, Anda bisa memberitahu pelan-pelan dan terus diulang. Tetapi, untuk anak di atas 4 tahun atau lebih, sebaiknya langsung beritahu tanpa menunggu. Semakin cepat anak diberitahu, semakin banyak waktu bagi Anda untuk membantunya.

Uluran tangan anak

Libatkan sang kakak berperan aktif. Selama kehamilan maupun nanti setelah melahirkan, sering-sering saja minta uluran tangannya. Mulai dari memilih baju bayi, mengambil vitamin untuk bunda, sesekali mengelus perut ibu, dan merasakan tendangan adik, serta lainnya. Dengan begitu anak tidak merasa dianaktirikan, melainkan merasa menjadi pahlawan bagi adiknya.

Kehadiran bayi yang positif

Sebisa mungkin hindari membangun wacana yang buruk tentang adik bayi. Sebaliknya, gugah semangatnya agar lebih antusias menerima. Seperti ada teman bermain di rumah, kakak adalah sahabat terbaik adik, dan acara jalan-jalan juga jadi lebih seru. Langkah taktis mengikis faktor-faktor yang bakal mendominasi penolakan.

Libatkan ayahnya

Ibu tak perlu berjuang sendiri. Pinta ayah untuk bekerjasama. Mulai mengambil alih supaya anak tidak terlalu lengket dengan ibunya. Misalnya urusan mandi pagi, sarapan, bermain sore hari, dan dongeng sebelum tidur ditangani oleh ayah. Sehingga nanti anak tidak terkejut bila ibu lebih banyak berada di samping adiknya.

Jangan membuat perubahan besar mendadak

Di sisi lain, jangan membuat perubahan besar yang mendadak dan terlalu mencolok. Contohnya, tiba-tiba memindahkan kamar kakak karena akan dipakai sebagai kamar tidur bayi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Bahkan perubahan sekecil apapun bila tidak dikomunikasikan dengan efektif, bisa membekas pada diri dan emosi. Sekali lagi, rangkul dan libatkan anak dalam membuat perubahan. Sehingga dia bisa merasakan bahwa perubahan bermanfaat untuk dirinya juga.

Jangan paksa dia menjadi anak yang sudah besar

Jangan paksa dia menjadi sudah besar hanya karena akan memiliki adik. Tak peduli berapa umurnya atau kelas berapa. Dia tetap membutuhkan perlakuan sebagaimana sebelumnya menjadi anak tunggal. Tetap dipeluk, tetap ditemani menjelang tidur, sesekali disuapi, menangis dan ditenangkan. Kehadiran adik bukan berarti mengurangi perhatian orang tua. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments