24

Surat yang Dibutuhkan dalam Jual Beli Tanah

Selain harus jeli sebelum membeli tanah, Anda harus memahami prosedur jual belinya. Ada berbagai lembaran surat yang mesti dilengkapi sebagai bukti sah transaksi.

Surat ini terdiri dari berbagai macam dan memakan waktu yang cukup panjang. Berisi data yang valid antara penjual dan pembeli. Sampai dinyatakan sah oleh pihak berwenang telah berpindah tangan kepemilikannya. Salah satu saja ada surat yang tak bisa dilengkapi, atau ditunjukkan, proses jual beli bisa terkendala.

Tetapi umumnya selama transaksi pihak penjual maupun pembeli tidak bekerja sendiri. Ada bantuan dari pejabat ahli tanah beserta timnya yang siap membantu. Tentu ada konsekuensi, berupa tarif jasa. Namun, minimal langkah ini dijamin tidak akan merugikan. Sebab terkait kewenangan mereka yang legal dan mengikis kesalahan prosedur, akibat keawaman publik yang sering tidak tahu menahu tentang jual beli tanah.

Data dari penjual

Pertama, ada data-data yang harus disediakan oleh pihak penjual. Fotokopi KTP (suami dan istri), kartu keluarga, surat nikah (bila sudah menikah), dan NPWP. Selain itu penjual juga harus dapat menunjukkan sertifikat asli hak atas tanah meliputi sertifikat hak atas milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak milik atas satuan rumah susun.

Apabila salah satu dari pasangan penjual telah meninggal, akta kematian mesti dilampirkan juga. Sedang bila telah bercerai, bukti tentang surat penetapan dan akta pembagian harta bersama dari pengadilan harus ada.

Data dari pembeli

Data dari pihak pembeli yang dibutuhkan lebih sedikit. Diantaranya hanya terdiri dari fotokopi KTP suami dan istri, kartu keluarga, surat nikah (bila sudah ada), dan NPWP.

Pembuatan AJB

Selanjutnya data-data tadi akan diserahkan pada Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Pejabat ini akan mengecek lebih dulu keaslian sertifikat tanah pada Kantor Pertanahan. Di samping penjual diwajibkan membayar pajak penghasilan dan pembeli tanah  membayar bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB).

Kemudian diteruskan dengan pembuatan akta jual beli (AJB). Pada proses ini, penjual yang sudah menikah harus datang bersama pasangannya. Bila tidak, wajib menghadirkan orang yang telah diberi kuasa tertulis. Juga mendatangkan saksi sebanyak dua orang. Isi akta akan dibacakan oleh PPAT lalu ditandatangi oleh PPAT itu sendiri, penjual, pembeli, dan saksi.

Akta asli dibuat dua lembar. Satu disimpan oleh PPAT, satunya lagi disimpan di Kantor Pertanahan. Pembeli dan penjual hanya mendapat salinannya.

Urusan ke kantor pertanahan

Setelah AJB tuntas, PPAT akan menyerahkan ke Kantor Pertanahan. Bertujuan memperoleh sertifikat baru yang sudah balik nama. Sekurang-kurangnya dalam tujuh hari pasca proses AJB ditandatangani. Penyerahan ini akan disertai bukti penerimaan untuk diberikan pada pihak penjual.

Pembeli akan dinyatakan sah sebagai pemilik baru. Di mana namanya tersebut secara jelas dalam halaman dan kolom yang ada di buku tanah serta sertifikat. Sertifikat berhak diambil oleh pembeli di kantor pertanahan setempat selama kurang lebih 14 hari. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments