20-6

Dinamika Kehidupan dalam Mata Kancing

Sudut pandang para perupa dalam melihat beragam kehidupan selalu menarik untuk dicermati. Begitu pula dengan goresan tangan I Putu Adi Suanjaya, akrab disapa Kencut, pelukis muda asal Badung, Bali, yang hijrah dan menetap di Yogyakarta. Sajian hasil karyanya bisa Anda nikmati sejak 19 Januari hingga 9 Februari 2019 di Kopi Kalyan, Cikajang, Jakarta Selatan.

Pameran tunggal perdana pria yang menimba ilmu Fine Art, tahun 2012 lalu di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini diresmikan oleh Bapak Ricky J. Pesik dari Bekraf. Dalam goresan cat akrilik di atas 23 kanvas, pria kelahiran tahun ‘94 ini, digandeng kurator andal, Ary Indra.

Kencut (kiri) dan Ary Indra (kanan).

Kencut menghadirkan tajuk Kaum Mata Kancing, yang dalam apresiasinya dikombinasikan dengan teknologi digital Augmented Reality. Sebuah teknologi animasi yang memungkinkan para penikmat seni mengeksplorasi karya lukis dalam gerak.

“Mungkin pada dasarnya saya menyukai seni gerak yang dihasilkan lewat animasi. Kemudian disandingkan dengan cara pandang Kencut akan visual lukis boneka yang seakan bergerak hidup,” jelas Ary. Pameran seni lukis yang digelar untuk umum ini, mengajak masyarakat khususnya generasi milenial untuk kembali menyukai karya-karya seni murni yang dikemas kekinian.

Wujud objek-objek yang menyerupai guling dan bermata kancing ini dituangkan dalam visual yang tampak hidup, berwarna-warni dan seolah bergerak bagai manusia. “Dalam karya ini saya terobsesi dengan kancing yang sering disimbolkan sebagai mata yang tidak bisa melihat. Menampilkan berbagai adegan kehidupan manusia seperti pertemanan, permusuhan, kebencian, rasa suka dan lain sebagainya. Menangkap tingkah polah yang seringkali disangkal oleh manusia itu sendiri. Beberapa judul pada lukisan ini ada yang mewakili kejadian pada pengalaman pribadi,” ujar Kencut sembari tersenyum.

Karyanya tersebut terinspirasi dari film berjudul Caroline. Film animasi yang bergenre horor, namun menyampaikan pesan nyata bahwa hipokrisi atau kepura-puraan begitu mahfum terjadi dalam hidup manusia. Namun manusia sering menyangkalnya dan menutupinya dengan sesuatu yang tampak bagus dan baik.

Sangat sayang bila pameran ini Anda lewatkan. Apalagi bila Anda, warga Bintaro, belum memiliki acara akhir pekan ini. (RIN)

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/Five Fourina

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments