09

Mendidik Anak Bersopan Santun pada yang Lebih Tua

Bukannya tidak mau, anak-anak sering tidak menunjukkan tata krama karena memang tidak tahu. Ia tidak dikenalkan bagaimana seharusnya bersopan santun pada yang lebih tua. Sikap yang seharusnya bisa diantisipasi oleh orangtuanya sendiri.

Ada baiknya orang tua tidak perlu menunggu sampai anak-anak memasuki usia sekolah. Atau menyerahkan urusan pembentukan pola sikap pada guru. Sebab, semakin dini anak-anak mendapat internalisasi nilai-nilai, semakin mudah untuk diserap dan dibiasakan dalam aktivitas sehari-hari.

Secara spesifik tujuannya juga bukan untuk menakut-nakuti anak pada sosok yang lebih tua. Melainkan menumbuhkan rasa hormat dan respek. Rasa yang notabene wajar tumbuh alami pada dirinya. Di mana kelak akan berbalik sebagai cinta kasih pada dirinya. Apalagi masa-masa pertumbuhan anak tidak jauh-jauh dari uluran tangan orang-orang dewasa. Baik di rumah, sekolah, maupun lingkup yang lebih luas.

Mulai dari nilai-nilai dasar

Mulai dari nilai-nilai dasar. Terutama yang berlaku di ranah keluarga dan lingkungan sekitar. Bisa pula norma standar yang dibutuhkan dalam pergaulan global. Seperti mengucapkan kata permisi, terima kasih, tolong, dan maaf. Kata yang sangat tepat diucapkan sebelum menggunakan barang orang lain, meminta izin, memerlukan bantuan, dan menyatakan perdamaian. Kata yang juga menggiring anak untuk lebih mengakui hak dan kepentingan orang lain.

Panutan nyata

Jadilah panutan nyata supaya anak semakin cepat menyerap ajaran tata krama. Tanpa dirasa, tanpa dipaksa, dan seolah tanpa disengaja. Contoh terdekat yang dapat ditiru dan meneruskan sebagai norma alamiah dalam interaksi satu sama lain. Misalnya, mencium tangan kedua orang tua Anda, berpamitan ketika hendak pulang ke rumah setelah menengok orang tua Anda.

Via permainan atau cerita

Sopan santun juga dapat diselipkan via permainan atau cerita. Membuat anak tak sadar bahwa ia sedang mempelajarinya. Orang tua bisa menyuguhkan aneka situasi yang berbeda dengan diiringi sikap yang berbeda-berbeda pula. Dengan demikian, kosa kata akan tata krama juga semakin kaya. Anak tak lagi canggung atau terbata-bata menunjukkan ekspresi tata krama yang bisa diterima oleh lingkungannya.

Alasan atau tujuan masuk akal

Tunjukkan alasan atau tujuan yang masuk akal. Tepatnya, mengapa anak perlu berperilaku sopan. Misalnya, agar hak orang lain tidak terganggu dan tersakiti perasaannya. Serta tidak memancing emosi negatif terhadap tindakan diri anak. Sehingga ada landasan kuat dibalik nilai-nilai yang mesti diterapkan.

Konsisten

Walau masih anak-anak, orang tua wajib konsisten menegakkan aturan. Dalam segala kondisi dan situasi. Adakalanya toleransi dapat diberikan, seperti saat anak sakit atau belum menghadapi situasi yang baru. Tetapi mayoritas anak tidak akan menganggap main-main ajaran tata krama, apabila orang tua terus mengajarkan dan mengingatkan.

Seimbang antara teori dan praktik

Seimbangkan antara teori dan praktik. Artinya tidak berhenti berupa penuturan nasihat dan pesan semata. Tetapi langsung diterapkan sebagai kebiasaan keseharian. Ketika dia membutuhkan bantuan, meminjam mainan, kedatangan tamu di rumah, bertemu orang-orang baru, pamit sebelum pulang, meminta maaf telah menumpahkan minuman, dan sebagainya. Anak pun semakin memahami pentingnya bersosialisasi yang sehat berlandaskan tata krama yang tepat. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments