12

Dampak Nyata Kekerasan pada Anak

Kekerasan anak tidak hanya berdampak langsung, namun masih terus berbekas hingga nanti dia dewasa. Memberi warna negatif pada masa tumbuh kembangnya. Membawa potensi tak menguntungkan bagi masa depannya.

Sayangnya data menunjukkan kekerasan pada anak berasal dari orang-orang terdekatnya. Bahkan terbanyak dari orang tua dan pengasuh. Ironisnya, kekerasan telah dianggap sebagai hal yang normal dalam kehidupan anak-anak. Langkah untuk mengenalkan nilai-nilai tertentu, pendisiplinan, hukuman, dan sebagainya. Anak pun dibuat tak kuasa menentang kekerasan yang harus dia terima.

Tidak hanya di lingkungan keluarga. Kekerasan yang telah diperkenalkan sejak kecil, makin intens datang dari sekolah dan agresi lingkungan bermain, semakin membuat nilai-nilai kekerasaan terinternalisasi dalam kehidupan. Sikap yang seharusnya tak bisa dibenarkan, mengingatkan berbagai konsekuensi yang harus ditanggung anak. Pola asuh mesti diubah. Menggunakan cara-cara yang lebih sehat, guna menggantikan kekerasan dalam keseharian.

Adapun jenis kekerasan bisa bermacam-macam. Fisik, seksual, emosional, pengabaian dan eksploitasi. Kekerasan fisik lebih mudah terlihat dibanding jenis yang lain. Cukup mengamati pada perubahan fisik akibat pukulan, cubitan. Masing-masing kekerasan akan meninggalkan trauma yang mendalam. Juga dampak lain yang harus diwaspadai sejak saat ini.

Risiko kesehatan mental

Anak yang terus menerus terpapar kekerasan, rentan mengalami masalah kesehatan mental. Stres dari tingkat terendah sampai terberat. Juga memiliki daya konsentrasi rendah, kurang daya juang, agresif, ragu mengambil risiko, dan sebagainya. Terlebih kekerasan yang tidak tersalurkan dan hanya dipendam, cenderung semakin melipatgandakan potensi kesehatan mental yang buruk.

Mudah mengidap penyakit

Studi juga menunjukkan anak mempunyai fisik yang tidak sehat. Dalam setahun, kunjungan ke tenaga medis lebih banyak dilakukan anak yang sering mengalami kekerasan dibanding yang tidak. Penyakit seperti kanker, diabetes, obesitas, masuk dalam jenis paling banyak diidap. Disamping itu, anak juga mengarah sebagai konsumen narkoba yang pada akhirnya terkena imbas dari obat-obatan negatif tersebut.

Manajemen emosi yang buruk

Karena alasan kesehatan mental yang buruk, manajemen emosi pun labil. Anak kurang memiliki kontrol dalam memberikan reaksi dan berinteraksi dengan orang lain. Berperilaku ke arah selfish dan childist karena berkehendak sesuka hati sesuai keinginannya semata. Tanpa mengindahkan kepentingan orang lain atau norma-norma yang berlaku secara umum.

Cenderung jadi pelaku kekerasan

Akibat internalisasi nilai-nilai kekerasan yang terus diterima, anak berpotensi besar menjadi pelaku kekerasan selanjutnya. Meneruskan apa yang sudah diterima dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari kebiasaan di rumah, di sekolah, bersama teman-teman, maupun dengan orang lain. Meneruskan kekerasan pada generasi penerus, terutama pada anak-anaknya sendiri saat mereka sudah jadi orang tua.

Gagal menempuh pendidikan dan pekerjaan

Efek lainnya adalah kegagalan menempuh pendidikan dan memperoleh pekerjaan. Akibat ketidakcakapan anak mengontrol emosi, potensi dalam diri kurang bisa dikenali. Hasilnya, anak dipandang sebelah mata dengan nilai sumber daya yang rendah. Interaksi yang tidak terlalu baik mengantarnya pada relasi yang tidak kuat dengan sesama. Memperoleh prestasi pun bukan hal yang mudah. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments