05

Yang Perlu Dilakukan Orang Tua Setelah Anak Bertengkar

Mengajak anak untuk berefleksi itu penting adanya. Terutama pasca bertengkar dengan teman sebaya atau saudara. Walau pertengkaran bagi usia mereka merupakan hal yang biasa.

Dengan berefleksi, anak-anak akan terbantu mencerna masalah yang dialami. Apalagi bila pertengkaran sudah melibatkan perkelahian fisik dengan disertai ucapan-ucapan yang menyakitkan. Walau anak sendiri bukan yang mengawali, tetapi terprovokasi oleh ulah temannya.

Selain itu, refleksi juga merupakan cara yang efektif untuk terapi. Orang tua dapat mengetahui berbagai rasa yang dialami setelah bertengkar. Kesal, marah, sedih, atau justru anak tetap baik-baik saja. Di samping orang tua mengajak anak guna mengelola emosi dan menunjukkan reaksi yang tepat bagi tiap jenis masalah. Mana saat yang tepat membela diri dengan menggunakan fisik, dan mana yang tidak perlu diberi tanggapan sama sekali. Serta saat di mana anak segera membutuhkan bantuan orang lain.

Ikhlas atau ada dendam

Ketahui dengan pasti apa yang sebenarnya dirasakan anak setelah dia bertengkar dengan teman. Masih kesal, marah, atau sudah lega karena telah melampiaskan seluruh emosinya? Banyak anak mengatakan dia baik-baik saja. Atau sekadar menunjukkan sikap diam. Hal ini karena tidak mudah bagi anak mengekspresikan perasaannya sendiri.

Oleh karena itu, hargai sikap yang dia tunjukkan. Sabar dan berikan waktu yang lebih untuk bercerita hingga tuntas. Orang tua yang lebih mengenali karakter anak, akan lebih mudah lagi memahami perasaan yang sebenarnya. Anak sudah mengikhlaskan atas apa yang telah terjadi atau masih memendam amarah pada temannya.

Memaafkan

Selanjutnya, ajak anak untuk memaafkan. Ajakan yang jarang dilakukan, padahal sangat penting dalam masa tumbuh kembang. Terlihat sederhana, namun menumbuhkan kesadaran pada anak akan arti memaafkan. Bahwa tidak selamanya pertengkaran selalu diikuti permusuhan. Dia dan temannya bisa berbaikan kembali seperti sebelumnya. Tidak memendam amarah, melainkan di lain waktu sama-sama saling menghargai dan menahan diri.

Di balik perbuatan teman

Anak juga perlu dikenalkan pada alasan-alasan di balik perbuatan teman. Misalnya orang tua dapat menjelaskan situasi yang belum sepenuhnya dimengerti oleh anak. Teman bersikap kasar karena masih terlalu kecil, belum mengenal kata permisi, pinjam, dan tolong. Sebutkan berbagai alasan yang dapat merangsang munculnya empati anak. Sehingga lain kali, anak tidak langsung bereaksi membalas, tetapi lebih menoleransi perbuatan temannya.

Ada cara lain selain bertengkar?

Lalu rangsang anak berpikir cara lain selain bertengkar. Khususnya dalam merespon tingkah laku teman-temanya. Meski cara ini tidak bisa serta merta diikuti. Contohnya, anak dapat menanyakan kenapa temannya begini atau begitu, mengapa dia diganggu, dan sebagainya. Jadi teman yang tadinya sudah siap bertengkar dari awal, turut menyurutkan niatnya.

Bagaimana jika terulang?

Nah, bagaimana jika nantinya terulang? Apakah anak sudah siap menghadapinya kembali? Tentunya lebih baik tanpa pertengkaran atau perkelahian fisik. Barangkali anak langsung melapor pada guru kelas atau orang tua. Lama-kelamaan ketika teman tidak mendapat respon, pertengkaran tidak lagi sering terjadi. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments