14

Bahaya Terlalu Sering Mengajak Anak ke Mal

Keberadaan mal seolah-olah sudah tidak dapat dilepaskan dari aktivitas keseharian. Apalagi kerap menjadi tujuan keluarga untuk menghabiskan waktu berlibur. Padahal, ada bahaya yang mengintai bagi anak-anak bila terlalu sering datang ke sana.

Terutama di kota-kota besar. Orang tua yang sudah kehabisan akal merencanakan agenda liburan, menjadikan mal sebagai tujuan. Meski pada dasarnya tidak ada barang khusus yang dicari. Memilih mal dengan harapan mampu menyediakan ruang hiburan. Layaknya berlibur ke suatu tempat wisata.

Bahkan kunjungan ke mal tidak hanya di waktu libur. Kunjungan juga diadakan pada hari-hari biasa. Misalnya setelah jam pulang sekolah. Sehingga anak-anak yang sedianya menghabiskan waktu sisa di rumah atau tempat lain, barangkali lebih banyak berada di mal.

Dari acara yang bertema belanja, sampai kongkow dengan teman sebaya, semuanya dilakukan di dalam mal. Keakraban yang menyisakan persoalan negatif. Bertambah parah jika orang tua tidak melakukan kontrol batasan waktu kunjungan. Anak bebas keluar masuk mal sesuka hati.

Jangan sampai mal menjadi pelarian waktu yang kosong. Orang tua bisa menyediakan banyak pilihan pada anak untuk berkegiatan bersama. Sehat untuk anak, sehat pula untuk dompet orang tua.

Konsumtif

Ya, bahaya paling utama dari seringnya anak ke mal adalah konsumtif. Perilaku yang terbentuk dari terbiasanya membeli barang di sana. Pengaruh visual pajangan barang-barang di etalase yang menggoda anak dan orang tua mengeluarkan uang. Sikap yang kemudian mengaburkan akan makna kebutuhan atau sekadar keinginan. Kalau tidak membeli barang, perhatian teralihkan pada tersedianya aneka makanan dan minuman. Jadi, merangsang pula kebiasaan jajan.

Akrab dengan kemewahan

Sudah menjadi rahasia umum, mal penuh dengan barang mahal dan orang-orang yang datang berpenampilan wah. Sedang anak memiliki daya mimikri yang kuat. Yakni kemampuan meniru pada orang-orang di sekitarnya. Maka sekiranya dia akrab dengan kehidupan mal, maka asal muasal kebutuhan hidup sehari-hari pun berasal dari sana.

Minim interaksi

Walau banyak keramaian, namun mal tidak menyediakan ruang interaksi yang memadai. Pasalnya setiap orang hanya lalu lalang sesuai selera masing-masing. Bahkan urusan jual beli nyaris hanya terjadi di meja kasir saja. Tak aneh bila nantinya anak kurang bisa supel dalam berkomunikasi dengan pihak yang berbeda. Atau terlalu ragu memulai percakapan pada orang-orang yang baru ditemui. Gaya hidup yang individualis makin menghantui.

Kurang beragam aktivitas

Aktivitas di mal terasa monoton. Tidak beragam dan terasa seragam. Berbeda jauh dengan kegiatan outdoor yang penuh warna dan, barangkali, canda tawa. Mayoritas mal berisi transaksi jual beli, nonton film, menikmati kuliner, dan hal-hal yang serupa. Membatasi anak mengenal pilihan lain yang lebih menantang atau yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

Tidak higienis

Sadar atau tidak, mal juga menyimpan sejuta penyakit. Kuman dan bakteri yang menempel di pegangan eskalator, tombol lift, juga di toilet. Aliran udara tidak mudah terganti dengan yang baru. Serta tak terkena siraman sinar mentari. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments