07

Etika Orang Tua pada Guru

Persoalan antara orang tua dan guru masih sering terjadi. Salah satunya dinilai bersumber dari minimnya etika orang tua pada sosok pendidik anaknya. Lalu, etika seperti apa yang sebaiknya ditujukkan para orang tua kepada guru?

Pembahasan ini tidak terlepas dari maraknya kasus yang melibatkan kedua pihak. Di mana orang tua kerap menyalahkan guru saat ada masalah yang menimpa anak mereka. Konflik tidak melewati mediasi yang sehat. Tetapi sering langsung mengarah pada ranah pidana. Membuat guru sering terpojok karena upaya kriminalisasi. Tentu menjadi pekerjaan yang berat dalam dunia pendidikan.

Keduanya harus saling menahan diri. Terutama orang tua harus berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan. Sebab, tindak tanduk orang tua bukan saja menyasar guru secara langsung, namun juga berpengaruh signifikan pada dunia edukasi anaknya sendiri.

Menunjukkan etika yang baik pada guru juga bukan sebagai upaya penghargaan pada jasanya semata. Namun efektif untuk memanusiakan hubungan aktor-aktor yang terlibat pendidikan. Karena guru tidak berjalan sendiri. Dia butuh kerjasama dari orang tua. Jadi, etika menjadi jembatan untuk menyelaraskan visi misi demi tujuan yang ingin dicapai bersama.

Senyum, Sapa, Salam

Bukan sekadar tagline, bukan pula sebatas bak aturan pelayanan. Ketiga sikap tersebut pada dasarnya merupakan tuntunan hidup bersosial. Dapat ditujukan pada siapa saja, termasuk pada guru. Orang tua tak perlu menunggu disapa terlebih dulu, tetapi memang menunjukkan keinginan mengawali interaksi yang baik. Dan, tidak berhenti di sini. Dari bertanya kabar, relasi berjalan penuh keakraban.

Memahami kesulitan dan batasan

Sebagaimana manusia biasa, guru juga bukan makhluk yang sempurna. Orang tua mesti memahami keterbatasan yang dimiliki guru. Menyangkut tenaga, pengetahuan, maupun gaya pengajarannya. Jika dirasa sudah mengganggu, ada baiknya orang tua bertanya mengapa sampai terjadi. Serta tak perlu ragu untuk membantu memberikan jalan keluar. Sedikit solusi yang ditawarkan, mungkin akan menjadi kesempatan bagi guru untuk lebih baik lagi.

Menghargai perbedaan

Perbedaan antara guru dan orang tua adalah keniscayaan. Tak bisa dipungkiri dan tak bisa dihindari. Maka, untuk apa semakin dibuka lebar. Perbedaan dapat direkatkan dan memperkaya warna-warni pendidikan. Bahkan menjadi pelajaran, bahwa anak tidak hanya memahami lingkungan yang dikenalkan orang tuanya, tetapi juga berbagai latar belakang yang dimiliki guru-gurunya.

Menanyakan alasan, bukan melayangkan tuduhan

Jangan gegabah bila bertemu masalah. Cari tahu dan bertanya. Gunakan bahasa yang santun beserta niat untuk memecahkan masalah. Tepatnya menanyakan alasan di balik terjadinya sebuah persoalan. Tidak langsung melayangkan tuduhan. Apalagi sudah telanjur terucap, namun fakta menunjukkan yang sebaliknya. Hanya akan ada rasa malu, sesal, dan meninggalkan noda dalam hubungan keduanya.

Berterima kasih

Dalam lingkup yang lebih luas, berterima kasih tidak hanya untuk keberhasilan guru mengantarkan anak hingga tingkat akhir. Namun juga berterima kasih atas segala tantangan, ujian, kesulitan, bertemu aneka konflik, yang mungkin tidak akan anak dapatkan saat dia tidak bertemu dengan guru-gurunya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments