19

Gangguan Mental Terkini Karena Media Sosial

Menjadi pengguna media sosial tampaknya harus lebih waspada. Ada efek samping berupa gangguan mental yang bisa menyertai. Tak dirasa, tapi dampaknya bisa membahayakan.

Umumnya gangguan ini muncul akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. Mendominasi aktivitas sehari-hari, menjadikannya referensi utama, pelarian saat ada masalah, dan sumber informasi yang langsung dituju untuk mencari solusi.

Penderita gangguan mental karena media sosial umumnya tidak menyadari. Namun seiring waktu, perubahan pada diri bisa dirasakan oleh orang lain. Baik yang berada di sekitarnya maupun yang mengamati akun media sosialnya.

Mereka yang mengidap gangguan ini juga berbeda dengan penderita gangguan jiwa pada umumnya. Jauh dari kata kusut atau kumal. Cenderung ke arah rapi, modis, sangat memperhatikan detail penampilan, dan update pada yang terbaru. Tepatnya, kekinian bila merujuk istilah yang sedang tren saat ini.

Narcissistic Personality Disorder (NPD)

Jangan anggap gemar foto selfie sepele. Dari selfie yang kemudian diiringi narsis dianggap sebagai gangguan mental yang mengarah ke perilaku asosial. Pelaku menganggap dirinya paling sempurna dan bahagia. Menginginkan perhatian yang berlebihan hanya pada dirinya. Di sisi lain mulai tumbuh sikap tak peduli pada kondisi orang lain.

Body Dismorphic Disorder  (BDD)

Body dismorphic disorder sebutan untuk menggambarkan ketidakpercayaan pada yang dimiliki, terutama bentuk fisik. Karena itu, penderita selalu menyeleksi foto dan melakukan otak atik terlebih dulu sebelum diunggah. Demi foto yang menunjukkan lekuk wajah yang sempurna dan apresiasi tinggi. Tak puas, edit berupa operasi plastik juga sering ditempuh agar fisik di dunia nyata tampil persis layaknya di foto.

Addiction

Ketagihan ini adalah rasa tidak tahan membuka media sosial. Takut ketinggalan informasi atau perkembangan terkini. Dalam beberapa menit saja, telapak tangan terasa aneh bila tidak menggenggam ponsel. Pikiran terasa kacau jika tidak membuka media sosial. Hati-hati bagi Anda yang mulai merasakannya.

Sosial Media Anxiety Disorder 

Hampir mirip dengan gangguan addiction. Bedanya, ketagihan jenis ini mengarah pada feedback dari orang lain. Berupa like dan comment atas tiap unggahan yang dilakukan. Bila jumlahnya tidak sesuai perkiraan, pelaku merasa tidak nyaman. Juga sangat terganggu apabila ada komentar yang tidak menguntungkan posisinya. Seperti tulisan yang bernada cemoohan atau ejekan.

Borderline Personalitty Disorder (BPD)

Penyakit ini digambarkan dengan rasa takut, cemas, khawatir, tidak gaul, dan sebagainya atas unggahan orang lain. Merasa tidak bisa mengikuti trend atau merasa tidak mampu melakukan hal yang sama seperti layaknya yang lain. Misalnya khawatir serta sedih sebab teman-teman di sekolah dapat berlibur atau merayakan ulang tahun dengan mewah. Sedang diri sendiri hanya berlibur di rumah tanpa banyak aktivitas yang berarti.

Munchausen Syndrome

Sindrom ini menunjukkan keinginan perhatian yang lebih dari pengguna media sosial yang lain. Pengidap sindrom tidak akan segan-segan mengarang cerita atau berbohong untuk meraih simpati dan rasa suka. Melebih-lebihkan cerita yang sebenarnya sederhana, serta menganggap hal yang bersumber dari dirinya pantas mendapat atensi. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments