03

Larangan Orang Tua yang Menghambat Tumbuh Kembang Anak

Ada larangan dari orang tua yang baik. Namun ada pula yang dianggap bisa menghambat tumbuh kembang anak. Sayangnya, larangan yang berindikasi negatif ini sering tak disadari orang tua.

Pada anak, dampaknya akan terasa. Potensi yang sebenarnya bisa cepat dikenali, jadi lebih lama muncul ke permukaan. Atau sama sekali tak diketahui. Minatnya untuk mengeksplorasi banyak bidang sangat kecil.

Larangan yang terus menerus diberlakukan ini tak lain terpengaruh oleh warisan nilai-nilai dari generasi sebelumnya. Di mana oleh alam bawah sadar orang tua diturunkan pada anak-anaknya. Karena itu sadari dari sekarang. Pilah nilai-nilai yang bisa diteruskan, dan hapus segera nilai-nilai yang merugikan.

Selalu pakai tangan kanan

Paksaan selalu memakai tangan kanan kerap terdengar. Padahal ada anak-anak yang dianugerahi potensi lebih banyak menggunakan tangan kiri. Atau yang sering disebut kidal. Tentunya paksaan ini bertentangan dengan rangkaian kerja saraf dan gerak motoriknya. Beban besar bagi anak yang lebih nyaman menggunakan dan memulai sesuatu dengan tangan kiri.

Makan harus banyak

Orang tua juga sering memaksa anaknya makan banyak. Padahal yang benar adalah makan secukupnya. Porsi makan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan usaha yang harus dikeluarkan oleh tiap anak. Bukan merasa paling mengerti apakah anak sudah kenyang atau belum.

Jangan banyak polah

Melihat anak duduk diam dan tenang jadi harapan besar. Sehingga melarangnya berlari-larian atau melompat ke sana ke mari. Dengan alasan, takut anak jatuh dan sebagainya. Banyak polah justru menunjukkan anak aktif dan berenergi besar. Berlari dan bermain fisik justru jadi cara menyalurkan energinya.

Tidak usah membantah

Anak juga tak boleh membantah. Apalagi bertanya dan memberi kritik. Pendapat orang tua selalu paling benar dan paling baik buat anak. Padahal tidak demikian halnya. Anak berhak bertanya, menggugat, dan menentukan pilihannya sendiri.

Tidak boleh berantakan

Tidak ada yang berantakan. Mainan dan barang-barang di rumah harus terlihat bersih dan rapi. Di mana malah membuat anak enggan menjamah dan mengeksplor apa yang ingin diketahui. Hasilnya, anak bersikap pasif dan cepat antipati pada sesuatu yang baru.

Tidak boleh bermain kotor

Anak dilarang keras bermain kotor-kotoran. Misalnya bersentuhan dengan lumpur dan air. Larangan yang dapat memutus perkenalan anak dengan aneka media permainan, beserta jenisnya.

Tidak boleh mengobrol di kelas

Sadar atau tidak, orang tua juga sering berkata, “jangan mengobrol di kelas”. Lebih baik, anjurkan pada anak untuk mengelola aktivitas mengobrolnya dengan sehat, tanpa harus menyalahi aturan di kelas. Seperti tata cara diskusi yang sehat, mengajukan pertanyaan, atau saat tepat menyela dialog dari guru.

Harus dapat peringkat satu

Tidak hanya itu, memaksa anak meraih peringkat satu juga masih jamak terjadi. Bahkan ditambahi dengan ancaman bila tak berhasil. Sejatinya, setiap anak itu unik. Setiap anak mempunyai potensi dan bakat yang tidak sama. Sering pula berbeda dengan materi akademik di sekolah. Karenanya, hargai dan dukung prestasinya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

 

Comments

comments