02

Ketika Pasangan Memiliki Sahabat Lawan Jenis

Cemburu dan berbagai rasa bertemu jadi satu. Percaya tak lagi utuh, terganti oleh curiga. Semuanya karena pasangan bersahabat dengan lawan jenis. Bagaimana sebaiknya?

Harapan agar mereka hanya sampai di tahap persahabatan tentu ada. Terutama pasangan tetap menjadi milik Anda, tidak memindahkan hatinya pada sahabatnya. Namun rasa yang tidak menentu pada diri sendiri kadang tak tertahankan lagi.

Ditambah, kita kerap percaya bahwa tidak ada persahabatan yang murni di antara lelaki dan perempuan. Selalu ada bumbu-bumbu cinta di akhirnya. Kekhawatiran yang bakal jadi mimpi buruk, di mana suatu saat posisi Anda, pelan tapi pasti, akan segera tergeser.

Muncul pula rasa iri yang begitu tinggi. Saat menyadari bahwa sahabatnya lebih mengenal pasangan Anda luar dan dalam. Lebih mengerti barang-barang yang disukai, memahami perasaan, makanan favorit, gaya liburan, lokasi hangout, dan sebagainya. Bahkan kadang sahabatnya juga telah begitu dekat dengan orang tua dan anggota keluarga yang lain.

Ingin buru-buru menghakimi tentunya bukan sikap yang bijaksana. Apalagi meminta pasangan untuk tidak bersahabat lagi. Karena mungkin mereka telah lama menjalin interaksi jauh lebih lama sebelum bertemu Anda. Jadi, semakin merasa sebagai nomor dua kan?

Tak perlu membatasi pertemanan

Tak perlu meminta pasangan beredar di lingkaran pertemanan yang terbatas. Atau menghentikan segala bentuk komunikasi dengan sahabatnya tadi. Pasangan berhak bergaul dengan siapa saja. Sebab pergaulan bukan sekadar senang-senang belaka. Relasi pertemanan juga banyak membawa manfaat untuk mencari rekan bisnis dan mengembangkan usaha, misalnya.

Kenali rasa cemas

Kenali kembali rasa yang ada di hati. Cemas seperti apa yang sering menghampiri dan mewarnai hari-hari? Terutama saat Anda sendiri. Masih dalam batas yang sehat atau sudah mencapai level cemburu buta.

Jika tak mampu membaca perasaan pada diri sendiri, coba sampaikan pada pasangan. Jadi pasangan lebih peka pada perasaan dan kebutuhan Anda.

Bicarakan prioritas dan komitmen

Jangan sampai emosi mengalahkan logika Anda. Minta keterangan dengan tenang terkait persahabatannya. Buat prioritas dan komitmen untuk dipatuhi berdua. Tentang posisi Anda dan dia, tentang batasan hubungan fisik, intensitas pertemuan, serta masih banyak lagi.

Bahas saja apa yang ingin Anda bahas. Jadi masalah bisa selesai tanpa menimbun banyak tanya dan rasa curiga.

Buat dia jadi teman Anda

Singkirkan rasa antipati. Coba dekati dan buat dia jadi teman Anda. Perkenalan awal yang berisi basa-basi, lanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Seperti mengajaknya belanja bersama atau sekadar menelpon untuk bertanya tentang kebiasaan pasangan yang mungkin dia tahu. Sehingga Anda dapat mengenali lebih dalam seperti apa pribadi sahabat pasangan yang sebenarnya.

Anda tetap yang utama

Anda tetap yang utama, mengapa? Karena Anda adalah pasangannya. Orang yang diminta sebagai teman hidup, telah merebut hatinya, dan bersama mengisi waktu. Berbeda dengan posisi sahabat, yang kadang hanya menjadi tempat curhat saja. Tenangkan diri dan tetap lanjutkan hubungan yang sehat dengan sahabatnya. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments