02

Rukun dengan Orang “Ketiga“ di Rumah

Adanya orang lain, meski saudara sendiri, yang “nebeng“ tinggal di rumah kita, kadang bisa menimbulkan gesekan. Karena setiap rumah tangga sejatinya ingin mandiri. Kehadiran orang “ketiga“ bila tidak ditangani dengan benar sejak awal, berpotensi memicu permasalahan, baik antar pasangan maupun antara pemilik rumah dengan “tamu.“

Agar suasana rumah tetap adem dan (kalau bisa) lebih nyaman, kedua belah pihak perlu membuat rambu dan batasan yang jelas. Tak perlu malu memulai obrolan untuk membahas hal tersebut. Daripada masalah makin berbelit dan suasana rumah jadi tak menyenangkan.

Aturan dan batasan

Carilah momen yang tepat dan buka obrolan yang ringan. Buatlah kesepakatan yang harus dipatuhi oleh semua anggota rumah. Misalnya terkait jam malam, mencuci piring selesai makan, mematikan lampu, mengunci pintu pagar, dan lain-lain.

Begitu pula dengan aturan lama waktu mandi, bergantian menggunakan mesin cuci, segera mengambil jemuran yang sudah kering, mengatur volume musik dan televisi agar tak mengganggu yang lain, mengembalikan barang yang sudah dipakai ke tempat semula. Perinci dan saling mengingatkan menjadi kunci kegiatan harian tak jadi hambatan.

Jangan ragu untuk membahas masalah finansial terkait kebutuhan harian. Sebagai pemilik rumah, bila memungkinkan, minta keluarga yang lain ikut menanggung biaya listrik, air, bahan bakar masak, biaya keamanan perumahan, dan biaya lain. Sepakati jumlahnya. Tak perlu takut dipandang matearialistis, tindakan ini sekaligus upaya untuk menumbuhkan kesadaran bahwa hunian tersebut merupakan tanggung jawab bersama.

Jika “tamu“ tersebut belum berpenghasilan sama sekali, atau malah Anda yang harus menanggung biaya hidup mereka, cari tugas lain sebagai kompensasinya. Misalnya, berpartisipasi dalam tugas keseharian rumah tangga. Atau aktif melakukan penghematan. Yang penting, bicarakan dan buat aturan yang jelas untuk segala hal.

Area privasi

Tiap anggota rumah ingin mempunyai privasi. Hormati dan hargai. Termasuk bila mereka ingin membuat ruang-ruang tertentu di dalam rumah menjadi ruang privat. Seperti kamar tidur. Ketuklah pintu kamar sebelum masuk.

Tak ikut campur

Kadang Anda mungkin ini menolong “tamu“ Anda yang terlihat sedang galau. Mungkin niat Anda baik, tapi bisa dianggap sebagai ikut campur. Tahan diri untuk tidak mengambil sikap atau sekadar mengucap kata. Terutama saat Anda tidak diminta dan kondisi dirasa tidak pas. Apapun masalah yang terjadi, biarkan mereka mengatasinya sendiri. Lebih baik fokus pada urusan Anda sendiri. Ikut campur justru menjadi pemicu timbulnya masalah-masalah yang lain.

Hindari nasihat

Hindari sikap memberikan nasihat setiap saat. Boleh jadi Anda memang tak suka atau tidak senang melihat perilaku dan temperamen “tamu.“ Tunggulah saat yang tepat untuk menyampaikan uneg-uneg hati. Atau Anda bisa melalui perantara bila yang dirasa bermasalah adalah saudara dari pasangan.

Ambil sikap

Pada titik tertentu Anda perlu mengambil sikap yang tegas. Saat berbagai aturan yang telah disepakati bersama mulai dilanggar tanpa alasan yang jelas, tidak lagi menghormati area privasi, tidak lagi menghargai satu sama lain, bersikap acuh tak acuh, dan sebagainya. Ketegasan dibutuhkan bukan untuk membuat takut, tapi merangsang kesadaran demi kebaikan bersama. Tak ada yang bisa membuat rumah jadi nyaman, selain penghuninya itu sendiri. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments