0112

Jangan Biarkan Lentera Kecil Meredup

Setiap anak terlahir suci, polos. Tak terkecuali bila akhirnya mereka terdeteksi mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV). Mereka tetaplah anak-anak yang ingin bermain, belajar, dan berteman. Sayangnya, ketidaktahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS membuat anak-anak tersebut terkucil, dan kehilangan masa depan. Pada Hari AIDS sedunia yang diperingati setiap 1 Desember ini, selayaknya kita sedikit peduli pada mereka, para lentera kecil.

Dari total 208.920 kasus HIV yang tercatat pada tahun 2016 oleh Kementrian Kesehatan RI, 3% di antaranya adalah anak usia di bawah 15 tahun. Umumnya, anak-anak di bawah sepuluh tahun tersebut tertular HIV dari ibu yang terinfeksi HIV. Hanya sebagian kecil yang tertular akibat transfusi darah yang tertular HIV.

Alangkah tidak adil bila anak-anak tersebut mendapat perlakuan berbeda. Sedikit pengetahuan ini siapa tahu bisa membuat kita lebih memahami penderitaan mereka.

  • Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi dalam kandungan, waktu melahirkan, atau menyusui. Menurut WHO, risiko bayi tertular HIV dari ibu adalah 30%. Namun penularan tersebut bisa ditekan, bahkan bisa dihindari, bila sang ibu memakai terapi antiretroviral (ART).
  • Hasil reaktif pada tes HIV terhadap bayi, tidak selalu berarti bahwa bayi tersebut terinfeksi HIV. Namun hasil tersebut membuktikan bahwa sang ibu terinfeksi HIV. Anak akan dianggap terinfeksi HIV bila setelah berusia 18 bulan, hasil tes HIV tetap reaktif.
  • Semakin lama proses melahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV, semakin besar risiko penularan HIV terhadap bayi. Risiko tersebut dapat dikurangi dengan melahirkan melalui bedah caesar.
  • Belum pernah dilaporkan kasus anak yang terinfeksi HIV akibat kegiatan sehari-hari di rumah. Walaupun ibu atau anggota keluarga lain terinfeksi HIV.
  • HIV tidak dapat menular melalui hubungan langsung dengan anak, misalnya memeluk, mencium, memandikan, mengganti popok, atau waktu bermain.
  • Beberapa tanda dan gejala anak terinfeksi HIV, antara lain, berat badan menurun, atau gagal tumbuh, diare lebih dari 14 hari, demam lebih dari satu bulan, infesi saluran pernapasan bagian bawah yang berat atau menetap, batuk kronis, dan lain-lain.
  • Anak yang terinfeksi HIV dapat tumbuh normal dan tetap sehat bila mendapat pengobatan yang benar, seperti ART dan pengobatan untuk infeksi oportunistik.

Kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap HIV/AIDS bisa mematahkan stigma terhadap anak-anak pengidap HIV. Sehingga mereka dapat berteman dan tumbuh dengan normal. Menjadi lentera yang terus bersinar. (YBI)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments