2911

Menjalin Komunikasi yang Efektif dengan Anak

Kadang, meski orang tua dan anak sering berinteraksi namun komunikasi yang terjalin kurang efektif. Hal tersebut membuat pesan yang ingin disampaikan, dari orang tua ke anak maupun anak ke orang tua, tidak tersampaikan dengan baik. Karena itu, penting bagi orang tua untuk menyadari apakah obrolan di rumah sudah efektif atau belum sama sekali.

Komunikasi tidak efektif ditandai dengan komunikasi satu arah, emosional, dan merasa paling benar. Baik orang tua maupun anak harus sama-sama memaksa diri untuk berubah. Mau berusaha untuk saling mendengar dan berempati terhadap masalah masing-masing.

Kenali lagi hubungan komunikasi di rumah. Cara ini juga tak lain untuk refleksi dan penyegaran kembali. Terlebih membuat anak tidak selalu merasa salah dan terintimidasi.

Menceritakan pengalaman

Anak belajar dari pengalaman. Ketika anak menemui masalah seperti yang dulu Anda alami, ceritakan bagaimana perasaan dan solusi yang bisa dilakukan. Misalnya anak malas sikat gigi. Tak perlu marah dan memberi ancaman. Seperti kalimat, “awas nanti gigimu berlubang”, terkesan menasehati tapi justru hanya menakuti. Pilih opsi kalimat lain, misalnya, “mama dulu juga malas sikat gigi, jadinya gigi warna hitam dan berlubang, deh.” Kalimat sejenis akan merangsang anak untuk bergerak dan memperbaiki sikapnya. Ketimbang hanya sekadar mengancam dan tak memberi contoh apa-apa.

Menyatakan keingintahuan

Awali membuka obrolan dengan mengutarakan rasa ingin tahu. Bila Anda memilih sikap interograsi, anak merasa terintimidasi dan tak tertarik mengemukakan alasan dibalik terjadinya suatu masalah. Misalnya, anak belum membereskan mainan sehingga kamarnya sangat berantakan. Lebih baik berkata, “mama lihat kamarmu masih berantakan ya, nanti tidurnya bagaimana dong?” dibanding, “kenapa kok kamu malas beres-beres sih? Lebih enak nonton tv ya?” Sampaikan dengan kalimat yang halus dan intonasi rendah. Anak akan cepat menyadari kekeliruannya dan memperbaiki mainan atas kesadarannya sendiri.

Menunjukkan empati

Empati adalah sikap esensial yang sangat diperlukan orang tua untuk mau memahami. Yakni memahami mengapa anak melakukan sesuatu, alasan dan tujuan yang ingin dicapai. Bukan berarti lantas selalu membenarkan alasan yang dibuat oleh anak. Tetap ada batasan koridor terhadap tingkah lakunya, namun tetap menerima perasaan yang dialami oleh anak. Katakan salah jika memang dia bersalah, dan juga katakan benar bila memang benar. Perbanyak kesempatan untuk mendengar dan pahami dengan dalam apa yang dirasakan oleh anak. Tindakan tersebut adalah bentuk empati yang baik.

Memberi pilihan  

Memberikan pilihan adalah tindakan yang tepat. Anak jadi terbiasa mengambil keputusan dan belajar dari konsekuensi atas apa yang dia pilih. Orang tua juga tampil menjadi sosok yang demokratis, bukan sosok tunggal yang menentukan segala hal. Beri jeda waktu bagi anak untuk memutuskan dan berpikir matang. Sebab, siapa tahu pilihan yang diajukan merupakan hal baru bagi anak. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments