2511

Repotnya Guru Zaman Now

Hari ini (25/11) adalah hari para guru. Tantangan para guru saat ini dan puluhan tahun ke belakang tentu berbeda. Namun ada yang tetap sama, guru memiliki peran besar dalam perkembangan anak. Bagaimanakah seharusnya sikap para guru dalam menghadapi generasi saat ini yang semakin dinamis?

Perubahan zaman yang dibarengi dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat mau tak mau juga membuat guru terus beradaptasi. “Guru pun harus dinamis, sesuai dengan tuntutan zaman, harus banyak menggali lagi ilmu-ilmu yang berhubungan dengan pendidikan dan terutama berhubungan dengan perkembangan anak,” tutur Eti Irawati, salah seorang pengajar di Sekolah Cikal.

Komentar senada juga diberikan oleh Biardini, seorang sukarelawan yang mengajar di SMA Terbuka di bawah naungan Yayasan Maleo. “Untuk menghadapi siswa saat ini, cara mengajar perlu lebih kreatif, banyak melibatkan peserta didik untuk diskusi, mencari solusi melalui praktek,” terangnya.

Tidak seperti dulu, anak dituntut selalu patuh dan tunduk pada guru, anak didik sekarang sudah mengerti bahwa mereka bukanlah robot yang bisa diperintah apa saja. Sebaliknya guru juga semakin sadar bahwa mereka manusia biasa, ada kebutuhan yang harus mereka penuhi, meski profesionalisme dan  totalisme terus dituntut darinya. Sebab itu, mau tak mau harus ada solusi agar keduanya menemukan kecocokan satu sama lain. Terutama agar guru bisa mengimbangi keinginan siswanya dan kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar.

Memahami tahap sosial-emosional

Perkembangan tahap sosial-emosional tiap anak dapat berbeda-beda dan terus berubah. Kadang stabil, kadang mendadak jadi labil. Kenali dengan baik emosi yang sedang dirasakan saat sedang mengajar. Bila terlihat siswa bosan, guru bisa berinisiatif untuk bertanya lebih dulu. Ketahui dengan pasti keinginan dan harapan terkait masa-masa belajarnya di sekolah.  Pendekatan personal akan membantu proses belajar jadi lebih baik dan keduanya terasa akrab.

Melibatkan peran aktif siswa

Manfaatkan rasa ingin tahu pada diri anak dengan melibatkannya secara langsung. Bukan mengajar dengan satu arah, tapi meminta anak untuk terjun dan mempraktekkan materi dalam berbagai proyek misalnya. Anak jadi lebih antusias memperdalam materi dengan diskusi dan tanya jawab. Gunakan kecanggihan teknologi sebagai mediator proses belajar. Guru tetap melakukan pendampingan dan pengawasan agar teknologi dimanfaatkan secara sehat.

Meninggalkan rasa penasaran dan menyisakan pertanyaan pada diri murid bisa menjadi sebab anak tak tertarik. Apalagi bila guru lebih memilih bersikap buru-buru, menutup akses pertanyaan, atau menjawab ala kadarnya.

Terus belajar

Seorang guru tidak pernah berhenti belajar. Ada banyak kesempatan untuk belajar bersama-sama dengan anak didiknya. Pertanyaan kritis dan rasa ingin tahu yang lebih dalam dari murid tak lain adalah jalan agar guru memperdalam lagi pengetahuannya. Rasa mengantuk dan bosan yang sering melanda di kelas pertanda guru harus me-upgrade lagi gaya mengajarnya. Murid yang tak mau diam dan sering bolos, mungkin sebabnya adalah hubungan yang renggang antar keduanya. Mari benahi itu semua. Karena terkadang yang satu bisa berperan sebagai pengajar, di waktu lain tanpa disadari beralih peran sebagai penerima ajaran. (LAF)

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments