1511

Emosi Orang Tua Terkendali, Anak Tenang

Emosi adalah hal wajar dan melekat pada tiap orang. Luput mengendalikan emosi menimbulkan efek negatif tidak hanya pada diri sendiri tapi juga pada anak. Karena Anak akan meniru langsung bagaimana bereskpresi saat merespon sesuatu dengan gesture tubuh yang biasa Anda tunjukkan.

Anak adalah the best observer. Ketika emosi Anda tak terkendali anak bisa merasa tidak mendapat empati. Sebab itu, meskipun Anda sedang lelah, sibuk, ingin marah, atau merasa cemas, usahakan agar selalu mengontrol diri di depan anak. Sadari sejak awal apa yang membuat Anda emosi, dan temukan penanganan yang tepat. Setelah itu, lakukan interaksi yang sehat.

Pemilihan kata

Tentu anak tak berharap mendapat kata-kata kasar. Meskipun tak harus terdengar mesra, pilih kata yang nyaman untuk diterima. Bukan bentakan atau hardikan, apalagi cacian. Jika Anda merasa ingin berbicara singkat karena ingin sendiri, jelaskan dengan sederhana maka anak akan lebih mudah memahami dan tetap merasa ditanggapi. Pemilihan kata yang tepat juga dapat membantu Anda untuk mengekspresikan diri agar anak atau orang lain mengerti emosi yang sedang Anda rasakan saat itu.

Ekspresi atau mimik muka

Saat sedang emosi tapi anak merengek ingin dituruti, memang butuh perjuangan untuk mengendalikan diri. Namun tetaplah berusaha untuk menghindari kesan wajah yang angker bak mau meledakkan barang-barang di sekitar Anda. Seperti mata yang melotot, lirikan tajam, atau wajah yang bersungut-sungut layaknya adegan drama di sinetron.

Tidak hanya paras wajah, anggota badan yang lain pun jangan ikut emosi. Seperti gerak tangan yang siap memukul atau kaki yang akan menendang. Tetap tenang dengan mimik muka penuh perhatian siap menampung segala keluh kesahnya.

Intonasi saat bersuara

Meskipun Anda tampak tenang dan bersikap datar-datar saja, penekanan suara pada kata yang diucapkan akan mendapat respon khusus oleh anak. Misal, Anda hanya berkata “ya” tapi dengan intonasi suara galak, maka anak bisa menganggap orang tua tidak ingin dia melanjutkan pembicaraan lebih lanjut. Atau saat Anda berucap, “apa mama tidak dengar?!” dengan suara yang lantang, niscaya Anda direspon sedang marah bukan ingin mendengar pengulangan dialog anak.

Memahami kebutuhan anak

Saat kesulitan mengendalikan emosi, orang tua kerap merespon kebutuhannya sendiri. Bukan menyadari pentingnya memberikan contoh yang baik pada anak. Lebih-lebih tidak mau memahami kebutuhan yang riil dihadapi oleh anak, meski terkesan sepele. Padahal anak belum tentu dapat menjelaskan urutan dengan detail masalah yang menimpanya.

Berilah kesempatan pada anak untuk mencurahkan masalahnya. Curahkan perhatian dan pengertian semampu yang Anda bisa. Bentuk empati yang tepat akan menjaga interaksi orang tua dan anak tetap sehat. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments