1710

Mengasah Jiwa Entrepreneurship Si Kecil

Kecil-kecil sudah lihai berjualan? Kenapa tidak. Jiwa kewirausahaan atau entrepreneurship perlu ditumbuhkan sejak kecil. Agar kelak ketika dewasa mereka sudah tangguh dan siap terjun ke kancah bisnis yang keras dan penuh tantangan. Untuk memiliki usaha yang sukses, jiwa entrepreneurship harus diasah sejak dini.

Banyak tokoh-tokoh dunia bisnis yang membuktikannya. Sebut saja, Mark Zukerberg. Pendiri facebook ini memiliki insting yang tajam dan kreativitas tinggi dalam mengembangkan bisnisnya hingga seperti sekarang. Atau di dalam negeri, kita mengenal almarhum Bob Hasan, pengusaha yang tahan banting dalam mengembangkan bisnisnya. Mereka semua sama dalam beberapa hal, memiliki jiwa usaha dan pantang menyerah.

Jiwa entrepreneurship sudah bisa diasah sejak anak masih di bangku taman kanak-kanak. Di Taman Kanak-kanak Sekolah Tunas Indonesia (STI), Bintaro, misalnya, anak-anak sudah diajarkan entrepreneurship. “Ada cooking class untuk anak-anak. Masakannya yang gampang-gampang dulu. Nanti kue itu mereka jual,” ujar dr. Dewi Kusumawati, MM, Managing Director Sekolah Tunas Indonesia, Bintaro. Anda juga bisa melatih jiwa entrepreneurship anak-anak dengan cara ini.

Ajak anak melihat peluang

Peluang bisa datang kapan dan di mana saja. Tinggal jeli melihatnya dan mengenalkan pada anak. Seperti yang dilakukan anak-anak TK STI. Kue-kue yang mereka buat, mereka jual ke orang-orang yang ada di sekitar sekolah, misalnya para guru dan orang tua.  Untuk kali pertama, tak perlu membuat target berapa keuntungan yang harus didapat. Yang terpenting anak nyaman dan suka. “Kegiatan ini juga mengajarkan anak agar tidak malu menawarkan barang,” terang Dewi. Selanjutnya, serahkan pada anak apa yang ingin dia lakukan pada peluang berikutnya.

Kenalkan pada hasil usaha

Anak juga perlu dikenalkan pada nilai uang. Artinya, keuntungan yang mereka dapat harus mereka rasakan manfaatnya. Memang boleh saja Anda menyarankan untuk ditabung. Namun tak ada salahnya Anda membiarkan si kecil menikmati langsung hasil usahanya. Anda bisa mencontoh apa yang dilakukan di TK STI. Setelah mendapat uang dari hasil penjualan, anak-anak diajak ke supermarket besar untuk belanja apa yang mereka inginkan. “Tentu saja dengan pengarahan sebaiknya apa saja yang boleh dibeli. Mereka juga dikawal oleh para guru dan orang tua,” ujar Dewi.

Kenalkan pada risiko dan tantangan

Tak selamanya usaha itu akan mulus. Maka kenalkan juga tentang risiko dan tantangan. Anda bisa memulai dengan membiarkan dia mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Andaikan barang yang ia jual tidak terlalu laku, ajak anak untuk mencari cara meningkatkan penjualan. Misalnya, bersama-sama membuat kemasan lucu untuk kue. Bisa dengan menghias toples kue, atau menaruh kue dalam kotak yang sudah diberi berbagai hiasan.

Kreasi, kreatif, dan inovasi

Biarkan anak untuk berkreasi, berkreatif, dan berinovasi. Manfaatkan gadget untuk mengajak anak bersama-sama mengintip kreativitas orang lain. Dari situ, anak bisa berpikir out of the box. Jangan langsung kritik ide-idenya. Sebaliknya, dukung dengan meminta mereka menjelaskan lebih jauh tentang ide mereka. Selain itu, bangun sense untuk mengerti dan tahu kebutuhan orang saat ini. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments