garasi1

Rela Berkorban Demi Anak Bisa Menyusui

Menyusui merupakan proses alami dari seorang wanita. Namun sesuatu yang alami tak berarti selalu mudah. Sebaliknya, menyusui bisa menjadi tantangan yang sangat besar bagi seorang ibu. Untuk itulah Gerakan Peduli ASI sekitar Tangerang Selatan (GarASI kita) hadir. Komunitas yang didirikan para ibu hebat ini tak kenal lelah membantu ibu-ibu yang kesulitan menyusui.

Karima Adesti Wiranegara, konselor menyusui dan salah satu pendiri sekaligus ketua GarASI kita mengatakan, masih banyak ibu-ibu yang tidak tahu pentingnya menyusui atau mengalami kesulitan menyusui, sehingga mereka lebih memilih memberikan susu formula bagi anak-anaknya. “Agar berhasil menyusui, seorang ibu harus memiliki 4 hal, yaitu tekad dan niat, ilmu, dukungan dari keluarga, dan bimbingan dari ahli,“ ujar Mima, panggilan akrab Karima.

Ada untuk membantu

GarASI kita pertama kali terbentuk dari grup aplikasi pesan instan di ponsel pada tahun 2012. Beranggotakan 30 perempuan yang memang sangat peduli ASI, termasuk empat konselor laktasi.

Ulang tahun keempat GarASIkita.

Setiap hari Rabu, di grup aplikasi GarASI kita diadakan kelas edukasi. Kelas tersebut diberi nama KASIH IBU (kelas edukasi setiap rabu). Pada hari itu, GarASI kita mengundang seorang pakar untuk berbagi ilmu, durasinya sekitar dua jam.

Ajang diskusi ini menurut Mima dapat menjadi tempat aktualisasi diri para ibu. Agar variatif dan memberi wawasan yang luas, tema setiap Rabu berbeda. Tidak selalu mengenai menyusui. Kadang kesehatan, parenting, atau kecantikan. Asalkan semuanya berbau perempuan.

Selain membuat kelas-kelas edukasi menyusui, GarASI kita juga menyelenggarakan acara-acara yang lumayan besar, seperti Kids Fair pada Agustus lalu. “Acara tersebut sebagai sarana transfer ilmu kepada para ibu. Dan memang banyak sekali ibu yang belum mengerti sepenuhnya mengenai pentingnya menyusui,“ terang Mima.

Acara Kids Fair, ajang transfer ilmu.

Tak jarang, para konselor menyusui di GarASI kita diminta untuk membimbing para ibu yang kesulitan menyusui di rumah-rumah sakit atau ke rumah pasien. Selain itu, GarASI kita juga memberikan bantuan advokasi bagi tenaga kerja wanita yang kesulitan mendapat fasilitas memerah ASI di kantor.

Melayani hingga dini hari

Perjalanan GarASI kita untuk menebar informasi yang benar mengenai menyusui dan ASI memang masih panjang. Perjuangan para konselor GarASI kita juga tidak ringan. “Kami tidak menuntut bayaran apapun, bahkan kami kadang harus mengeluarkan uang untuk transportasi ketika harus mendatangi tempat pasien,“ terang Mima.

Para pengurus GarASIkita (kiri ke kanan): Widi, Cania, Mima, Ayu, Dewi.

Dukungan dari keluarga, terutama suami dan anak sangat dibutuhkan. Pintu rumah mereka pun terbuka 24 jam. “Tak jarang ibu-ibu yang ingin konseling datang pada malam hari. Padahal untuk konsultasi tak cukup hanya satu jam. Pernah sesi konsultasi berlangsung hingga pukul 1.30 dini hari,“ ujar Mima.

Semua itu dijalani para konselor GarASI kita dengan ikhlas. “Melihat wajah bahagia para ibu ketika bisa menyusui anaknya merupakan bayaran yang tak terkira,“ tutur Mima. Bahkan ia mengisahkan, konselor GarASI kita telah berhasil membantu ibu adopsi untuk bisa menyusui anak adopsinya. Kebahagiaan ibu tersebut membuat Mima dan para pengurus GarASI kita semakin semangat menularkan ilmu menyusui dan ASI. [YBI]

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/dok. GarASIkita, Yudhanti

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments