foto1

Menikmati Ketupat Sayur Sumatera Otentik di Bintaro

Kaya rempah. Berani bumbu. “Menggigit”. Tajam. Begitulah cita rasa kuliner kawasan Semenanjung Melayu atau Sumatera pada umumnya. Rasanya yang kuat itulah yang membuat lidah Anda menagih. Namun tak perlu pergi ke sana jika Anda merindu ketupat atau lontong sayur khas Sumatera. Di sekitar Bintaro pun Anda bisa menemukan hidangan ini dengan rasa otentik.

Ketupat sayur padang Pak Teddy

Food truck ketupat sayur padang Pak Teddy.

Ketupat sayur ini dijual menggunakan food truck yang terparkir di pelataran sebuah minimarket tak terpakai di jalan raya Bintaro Utama sektor 5. Food truck warna putih dengan logo warna merah kuning sepintas memang tak terlalu mencolok. Jadi Anda harus memelankan sedikit kendaraan ketika mencarinya.

Meski berada di pinggir jalan, tempat dan makanan yang disajikan sangat bersih. Awalnya, tempat ini hanya menjual roti bakar dan pancake untuk sarapan. Namun Teddy, pemilik food truck, merasa sayang bila ketupat sayur padang buatan ibunya yang lezat tak dicicipi banyak orang. Akhirnya, justru ketupat sayur padang tersebut menjadi bintang di tempat jualannya ini.

Ketupat sayur padang lengkap dengan kerupuk dan telur balado.

“Bumbu-bumbunya langsung diimpor dari Padang. Dibuat oleh ibu saya,“ ujar Teddy. Tak heran bila bumbu dari ketupat sayur ini benar-benar terasa. Santannya meski tak terlalu kental, namun gurih dan lembut. Irisan nangkanya pun lunak. Rasa pedasnya menggigit lidah, namun tetap nyaman di perut.Sepiring ketupat sayur yang berisi daun singkong dan nangka muda ini, dijual dengan harga Rp 12 ribu saja. Bila Anda ingin menambahkan protein, minta saja telur balado, Anda cukup menambahkan Rp 3 ribu.

Jika sepiring ketupat sayur padang masih kurang, Anda bisa memesan semangkuk bubur kacang hijau kupas. Berbeda dengan bubur kacang hijau biasa, bubur kacang hijau kupas ini lebih ringan dan sedikit kenyal karena campuran tepung sagu. “Saya biasanya tidak suka bubur kacang hijau, tapi bubur kacang hijau kupas di sini beda. Tidak terasa sudah habis satu mangkuk,“ ujar Dania, salah seorang pengunjung.

Gurihnya bubur kacang hijau kupas.

Di sini, Anda juga bisa menikmati sarapan dengan menyeruput secangkir kopi aceh gayo. Namun jangan sampai kesiangan tiba di sini. “Biasanya jam 11 sudah habis, atau paling lambat jam 11.30 saya sudah pulang,“ kata Teddy.

Lontong medan

Gerai Lontong Medan di Pasar Modern Bintaro.

Salah satu kuliner Medan yang terkenal adalah lontong medan. Anda bisa mendapatkan rasa lontong medan yang otentik di Lontong Medan Pasar Modern Bintaro sektor 9. Sajiannya sepintas mirip dengan lontong sayur. Ada potongan lontong, telur bulat, dan kuah santan kental. Namun, soal rasa, jauh berbeda.

Lontong medan yang satu ini lebih “nendang”. Rasa rempah terasa melimpah. Ditambah bumbu tauco, cabai, dan teri medan yang digoreng kering, rasa lontong medan ini berlipat-lipat lezatnya. Apalagi ketika disantap selagi hangat.

Lontong medan kaya rasa.

Iwan Hasbi, pemilik rumah makan Lontong Medan di Pasar Modern Bintaro mengaku, selama tinggal di Jawa, ia sulit menemukan rumah makan ala Sumatera Utara yang menyajikan makanan serupa dengan daerah aslinya. “Saya pun akhirnya mendirikan rumah makan di sini. Agar rasanya mirip seperti di Medan, kami tidak mengurangi porsi bumbu yang digunakan, jadi rasanya kuat,” kata Iwan. Dalam mengolah setiap makanan, Iwan selalu berpatokan pada resep yang dibuat oleh neneknya. Iwan bahkan “mengimpor” sejumlah bahan makanan langsung dari Medan . Misalnya, sate kerang.

Sate kerang yang diimpor dari Medan.

Sate kerang menjadi salah satu menu favorit di Lontong Medan Pasar Modern Bintaro. Satu tusuk harganya Rp 10.000. Perpaduan rempah dalam sate kerang ini begitu kaya. Manis, gurih, dan sedikit pedas. Tutuplah pengalaman kuliner ini dengan menikmati secangkir kopi khas Sidikalang. Sambil mengobrol bersama keluarga atau teman-teman pada akhir pekan, nikmatilah berkelana rasa di Bintaro. [KUL/YBI]

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/Nikikula, Yudhanti, dok Bintaro Bazaar

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments