0509

Siapkan Karakter untuk Jadi Bos

Tak semua bos memiliki jiwa kepemimpinan. Saat Anda ditunjuk perusahaan untuk menempati posisi yang cukup tinggi dan membawahi banyak anak buah, di situlah tantangan besar dimulai. Untuk mengharmonisasikan karakter anak buah  yang berbeda-beda Anda membutuhkan keterampilan memimpin. Ya, memimpin adalah seni. Karena itu Anda perlu menanamkan beberapa karakter untuk bisa menjadi pemimpin yang baik.

Seni memimpin, penting, karena tanpa ini kinerja bagian atau perusahaan yang Anda pimpin dapat terhambat. Salah memimpin, jabatan tinggi bisa jadi bumerang bagi Anda. Eits, jangan jeri dulu. Seperti seni, jiwa kepemimpinan bisa diasah juga, kok. Pupuk saja lima karakter penting dari pemimpin ini.

Bertanggung jawab

Ini adalah sikap mutlak yang dimiliki pemimpin. Bertanggung jawab artinya tidak hanya terkait dengan tugas atasan, tetapi juga penugasan dan hasil kerja anak buah. Baik-buruknya hasil kerja anak buah, atasan atau pemimpinlah yang bertanggung jawab. Untuk itu, tugas seorang pemimpin haruslah memastikan pekerjaan atau penugasan selesai dengan baik dari awal hingga akhir. Apabila terjadi kekurangan atau kesalahan, pemimpin harus siap untuk “pasang badan“.

Jujur

Sikap ini juga tidak bisa dilepaskan dari karakter seorang pemimpin. Seseorang perlu bersikap jujur dan tidak curang dalam penanganan tugasnya. Pemimpin juga perlu jujur jika terjadi suatu masalah dan melibatkan kepentingan orang banyak. Demikian juga jika kesalahan terjadi dan disebabkan oleh pemimpin di tempat kerja, ia perlu berani mengakui kesalahannya.

Komunikatif

Posisi pemimpin di tempat kerja mau tidak mau menjadi jembatan komunikasi antara atasan yang lebih tinggi dengan bawahan atau pihak eksternal. Untuk itu, sebagai pemimpin, seseorang perlu bersikap komunikatif, tidak hanya sebagai pembicara, tetapi juga sebagai pendengar yang baik. Kemampuan komunikasi setiap orang memang berbeda-beda, tetapi hal inilah yang perlu dilatih.

Profesional

Pemisahan masalah pribadi dan urusan pekerjaan pun tidak hanya berlaku untuk karyawan biasa, tetapi juga pimpinan atau atasan. Seorang pemimpin baru dalam pekerjaan perlu memiliki sikap yang efisien dalam mengelola waktu dan jenis penugasan yang dibebankan. Jangan hanya karena suasana hati memburuk, performa menurun. Dalam situasi apapun, seorang pemimpin hendaknya berkepala dingin dan menjalankan tugas serta tanggung jawab sebaik-baiknya.

Obyektif

Sikap obyektif kadang sulit dilakukan. Apalagi jika di kantor, kita memiliki kedekatan pergaulan dengan rekan kerja tertentu yang sekarang menjadi bawahan. Demikian juga jika kita mengagumi satu sosok tertentu di kantor tetapi ada masalah yang menimpa orang tersebut. Namun, bagaimanapun juga, sikap obyektif tidak bisa ditanggalkan. Seorang pemimpin perlu jernih dalam menyikapi masalah, memberikan apresiasi jika ada karyawan berprestasi, dan bersikap tegas jika terjadi pelanggaran atau kecurangan di kantor tanpa pandang bulu. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments