foto3

Adu Laga Para Kreator Latte Art

Banyak kisah yang bisa tersajikan dari secangkir kopi. Filosofinya, aromanya, bisnisnya, juga seninya. Ya, kopi bukanlah hanya soal kenikmatan rasa, namun juga masalah seni menyajikan. Latte Art Battle yang diadakan pada Sabtu (29/7) di Cozyfield, Gramedia World Emerald Bintaro, membuktikan hal itu.

Mesin espresso mendesis. Uap hangat menyembul dari mesin pembuat krimer. Tangan-tangan terampil dengan penuh kehati-hatian melukis di atas genangan espresso. Dengan batas durasi waktu, suasana kompetisi penuh ketegangan. Namun, bagaimanapun juga para barista ini harus tetap tenang untuk menciptakan kreasi latte art yang menawan.

Salah satu peserta sedang membuat latte art di secangkir kopi.

Kompetisi yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 40 barista dari berbagai wilayah di Jabodetabek. Ini adalah perhelatan kompetisi latte art ketiga yang digelar Cozyfield, setelah diadakan di Cozyfield Cafe & Resto Karawang dan Cozyfield Cafe & Resto PIM 1.

Banyak faktor

 “Yang dinilai dari kompetisi ini antara lain estetika dan art-nya. Balance dan contrast antara kopi dan art juga dilihat. Makin kontras, makin bagus. Makin simetris, makin bagus,” ungkap Handoko Hendroyono, salah satu juri yang juga sekaligus pendiri Viva Barista.

Para dewan juri menilai latte art peserta.

“Kalau saya menilai dari segi teknisnya, sudah bagus apa belum,” kata juri Muhammad Aga yang juga sekaligus pendiri Coffeesmith. “Tadi saya lihat ada yang sudah muncul bubble begitu selesai dibuat. Kalau bubble muncul terlalu cepat, gambar latte art jadi kurang jelas.”

Selain Handoko dan Aga, juri dalam Latte Art Battle kali ini adalah Moeljono Soesilo, yang merupakan pakar kopi dan salah satu pendiri dari Viva Barista. Sementara itu, Gideon Agung (24), salah satu barista peserta menuturkan, tantangan terbesar dalam kompetisi ini adalah mental. Jika semakin dipikirkan, justru rasa ketakutan semakin besar. Jadi, Gideon berusaha menenangkan diri dan tetap fokus.

Kreasi latte art yang jadi finalis.

Tidak sia-sia menaklukkan mentalnya sendiri, Gideon keluar sebagai Juara Favorit dan Juara III dalam Latte Art Battle. Juara II diraih oleh Nurhuda. Sementara itu, Juara I berhasil diraih oleh Joffri Soesman atau biasa dipanggil Joe.

Terus berkibar

Joe (30) yang asli Nanggroe Aceh Darussalam dan kini tinggal di Radio Dalam ini sebenarnya telah mempelajari cara pembuatan latte art sejak 2012. Ia mengaku tidak ada persiapan khusus untuk kompetisi latte art kali ini. Sambil bekerja sebagai barista di sebuah kafe di bilangan Gandaria, ia juga mengasah kemampuannya dalam menciptakan kreasi latte art. Meskipun sempat gagal dalam kompetisi latte art sebelumnya, tak dinyana, Joe berhasil menjadi pemenang kali ini. “Rencananya, saya ingin memenangkan kompetisi latte art se-Indonesia setelah ini,” harap Joe.

Para finalis latte art battle dan dewan juri.

Kompetisi Latte Art Battle dengan total hadiah jutaan rupiah ini memang tidak berakhir di Cozyfield Gramedia Emerald Bintaro. Adu kemampuan berkreasi latte art akan terus berlanjut ke Cozyfield Gramedia World. Terdekat, adalah kompetisi latte art di Gramedia World BSD yang sedianya digelar pada September mendatang.

“Para barista yang belum berhasil masuk sebagai finalis atau lima besar dalam Latte Art Battle di Cozyfield masih bisa mengikuti kompetisi selanjutnya,” kata PR Toko Buku Gramedia Fityan Yudhan.

Jadi, bagi Anda yang barista, tertarikkah menjajalnya? [KUL]

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/Nikikula

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments