2807

Riuh Rendah Komunitas Dunia Maya Bintaro

Pesatnya perkembangan media sosial membuat komunitas berbasis media sosial banyak bermunculan. Tak terkecuali di Bintaro, yang memiliki beraneka ragam komunitas. Salah satu komunitas di Bintaro berbasis media sosial yang cukup besar, adalah komunitas Group FB Bintaro dan Bintaro Bazaar.

Kedua komunitas ini tumbuh dengan pesat. Saat ini, untuk Group FB Bintaro saja, telah memiliki sekitar 17 ribu anggota. Sedangkan Bintaro Bazaar yang umurnya lebih muda, yaitu baru sekitar setahun, sudah memiliki sekitar 14 ribu anggota. Sehari-hari, anggota komunitas ini hanya berinteraksi melalui media sosial, tepatnya facebook.

Mulai dari sini

Meski pencetus awalnya, yaitu Joel Reed Keenan dan Richard telah meninggalkan Bintaro. Komunitas Group FB Bintaro tak lantas mati. Di tangan Rio Aribowo, Muh Taufik, Moh Bahrun, Yanuar Ekadian Pongki, dan James Ridwan, Group FB Bintaro mampu menarik hingga belasan ribu anggota.

Postingan warga sangat banyak dan bervariasi. Tak hanya sekadar saling bertukar info, namun juga ada yang berjualan atau berbisnis. Akhirnya, kelima moderator tersebut sepakat untuk merapikan Group FB Bintaro. Pongki, yang pernah menjadi social media specialist diberi mandat untuk merapikan Group FB Bintaro. Mereka ingin mengembalikan komunitas tersebut ke tujuan semula, yaitu untuk sosialisasi warga. Saling memberi info, mengedukasi, dan memberi manfaat bagi sesama warga Bintaro.

Untuk menampung kepentingan warga yang ingin berbisnis, James akhirnya berinisiatif untuk membuat komunitas baru, yaitu Bintaro Bazaar. Komunitas baru tersebut langsung dijaga ketat oleh Pongki dan Bahrun, agar tidak  ‘kecolongan ‘ seperti Group FB Bintaro. “Kami buat peraturan baru, dan bagi yang ingin berbisnis kami beri wadahnya,” terang Rio.

Niat baik ini tak mulus. Banyak yang protes, mengomel, bahkan marah-marah. “Namun kita harus tegas,” kenang Bahrun. Meski mulai dari nol, ternyata Bintaro Bazaar mendapat sambutan yang tak kalah hangat. Anggotanya langsung melesat, hampir menyamai Group FB Bintaro. Masalah selesai? Justru di sinilah keseruan dimulai.

Haru biru sang moderator

Agar kejadian pada awal berdiri FB Bintaro tak terulang, maka warga yang ingin bergabung di Bintaro Bazaar diwajibkan untuk melakukan registrasi. Inilah langkah seleksi awal untuk melihat apakah orang yang ingin bergabung benar-benar serius atau hanya coba-coba. Kebijakan ini lagi-lagi mendapat omelan dari warga.

Setiap orang yang mendaftar akan melalui proses seleksi. Begitu pula postingannya. Sebagai moderator, dipilih dari anggota yang aktif. “Kami di sini bekerja secara sukarela, karena itu perlu mendapat dukungan dari anggota,” ujar Bahrun.

Sehari harus menyeleksi 400 hingga 500 posting tentu bukan hal yang mudah. “Kadang kami harus siap menerima omelan dari anggota yang merasa postingannya tidak di-approve,” ujar Dania, salah satu moderator Bintaro Bazaar. “Makanya, kalau anggota yang galak-galak atau judes, kadang kita langsung delete saja postingannya. Apalagi yang terlihat mencurigakan,” ujar Erni, yang juga moderator Bintaro Bazaar.

Bintaro memang masih menjadi magnet kuat bagi orang yang mau berbisnis. Termasuk bagi orang-orang di sekitar Bintaro. “Permintaan untuk menjadi anggota bukan hanya datang dari warga Bintaro, tapi juga dari BSD dan Serpong,” kata Rio. Dan diakui Erni, Bintaro Bazaar memang membantu bisnisnya. Ia bisa memasarkan produknya hingga ke Lhokseumawe berkat berpromosi di Bintaro Bazaar.

Namun di tengah keberhasilan Group FB Bintaro dan Bintaro Bazaar dalam mengembangkan jumlah anggotanya, terselip juga tantangannya. “Dunia maya itu semu. Ketika tertarik mereka datang, namun kalau mulai malas dan jenuh, akan ditinggal. Kita tidak bisa memantau terus. Itulah salah satu kelemahan dari komunitas yang berbasis dunia maya. Banyak orang yang coba-coba,” jelas Bahrun yang juga penggiat komunitas otomotif ini.

Untuk mendekatkan sesama anggota, moderator Group FB Bintaro dan Bintaro Bazaar mencoba melakukan kegiatan untuk anggotanya. Salah satunya dengan mengadakan acara Bintaro Berwarna, Desember tahun lalu. Namun kegiatan tersebut memerlukan energi yang lumayan besar. “Lagipula, tidak semua anggota nyaman untuk ‘kopi darat’. Ada anggota yang ramai ketika di FB, namun begitu ‘kopi darat’ mereka jadi kaku,” imbuh Rio.

Apa pun tantangannya, para moderator komunitas tersebut berharap, setiap anggota dapat memberi kontribusi, memiliki kesadaran, dan rasa memiliki kepada komunitas. Para moderator berharap para anggota juga memberi masukan kepada mereka, sehingga komunitas dunia maya ini menjadi lebih baik lagi.

Selain itu, Rio berharap pengembang kawasan Bintaro Jaya, PT Jaya Real Property, dapat memberi dukungan bagi keberadaan komunitas mereka. “Misalnya dengan memberikan tempat bagi komunitas untuk melakukan berbagai kegiatan. Setidaknya kami dipermudah ketika akan mengadakan kegiatan,” pungkas Rio. [YBI]

 

Foto: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments