foto0507

Si Kecil, kok, Sudah Berkacamata?

Anak Anda boleh saja lincah berlari ke sana kemari. Tampak sehat dan aktif. Tapi apakah Anda yakin matanya juga sehat? Jumlah anak berkacamata minus makin meningkat. Padahal penggunaan kacamata pada anak bisa menghambat tumbuh kembang anak. Untungnya, bila bukan karena kelainan mata bawaan, penggunaan kacamata pada anak bisa dicegah.

Dulu, mungkin faktor penyebab utama rabun jauh pada anak-anak, bahkan di usia yang kurang dari 5 tahun, adalah genetik atau kelainan kongenital. Yaitu kelainan bawaan pada bola mata sejak lahir. Pembentukan bola mata yang kurang sempurna bisa terjadi ketika seorang anak lahir prematur. Namun saat ini penyebab terbesar anak berkacamata lebih karena kebiasaan buruk.

Kenali lalu benahi

Mata minus tak terjadi dalam hitungan menit, atau hari. Kebiasaan buruk yang dilakukan sering dan terus meneruslah  yang membuat kesehatan mata menurun. Kebiasaan buruk tersebut misalnya, membaca dengan penerangan minim, menonton televisi atau melihat gadget dengan jarak terlalu dekat.

Akumulasi dari pemaksaan kerja mata ini membuat mata mengalamai kelainan refraksi. Bayangan tegak tidak dapat ditangkap oleh retina. Kalau ini sudah terjadi, langkah terbaik memang memberikan kacamata untuk membantu penglihatan anak.

Sebaiknya, penggunaan kacamata cepat dilakukan, karena semakin ditunda kerusakan mata bisa bertambah parah. Sayangnya, anak sering tak menyadari bila matanya mulai memerlukan kacamata. Anda, sebagai orang tua, memang harus jeli mengenali tanda-tanda anak memerlukan kacamata. Inilah beberapa tanda pada anak yang perlu Anda waspadai:

1/ Anak sering memicingkan mata, seperti silau.

2/ Anak makin dekat ketika melihat televisi atau gadget.

3/ Anak sering memiringkan kepala atau berkedip-kedip ketika melihat obyek yang tidak terlalu jauh.

4/ Prestasi belajar anak menurun.

5/ Anak sering mengeluh pusing.

6/ Keluar air mata ketika membaca lama.

Tidak hanya wortel

Bagaimana jika anak sudah terlanjur harus berkacamata? Tentu saja hilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk tadi. Kacamata hanya membantu penglihatan anak. Bila kebiasaan buruk tersebut tetap dilakukan, kerusakan mata bisa semakin parah. Artinya, minus bertambah, kacamata pun makin tebal.

Agar anak merasa nyaman dan tidak terbebani ketika mengenakan kacamata, ajaklah anak untuk memilih kacamatanya sendiri. Biarkan anak memilih kacamata dengan model dan warna yang disukainya. Anda hanya perlu memastikan kacamata yang dipilih anak tergolong ringan dan nyaman dikenakan anak sehari-hari.

Jangan lupa, ajarkan pada anak untuk merawat kacamatanya sendiri. Contohnya mulai dari cara memegang dan meletakkan kacamata dengan benar hingga mengelap dan membersihkan kacamata yang berembun. Tekankan pada anak untuk berhati-hati ketika mengenakan kacamatanya agar tidak mudah jatuh dan terinjak.

Dukunglah anak agar tidak minder meskipun ia mengenakan kacamata dan berbeda dengan teman-temannya. Berikan pemahaman pada anak jika ia memerlukan kacamata agar bisa melihat sekitar dan belajar dengan nyaman.

Dan yang tak kalah penting, berikan anak makanan yang bernutrisi, terutama nutrisi yang diperlukan oleh mata. Tak hanya wortel, aneka sayur dan buah juga memiliki vitamin yang diperlukan oleh mata. Beberapa makanan  yang baik untuk mata misalnya, labu kuning atau ubi, bayam dan sayuran hijau, ikan tuna, salmon, dan sarden, kepiting, tiram, jeruk dan buah-buahan keluarga beri, dan telur.  [KUL]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Intagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments