foto2405

Jangan Mengompol Lagi, Sayang…..

Meskipun sudah memasuki usia prasekolah atau bahkan mungkin sekolah, kadang ada anak yang masih mengompol. Kalau Anda salah satu yang mengalaminya, cari cara untuk menghadapi anak yang sering mengompol.

Memang, berkali-kali harus membersihkan tempat tidur bekas anak mengompol membuat kesal dan menguji kesabaran. Namun, janganlah terjebak dalam kemarahan. Beragam sumber medis menyebutkan, mengompol adalah kondisi yang sangat wajar terjadi pada anak kecil. Ketika masih kanak-kanak, otot saraf kandung kemih anak belum bekerja maksimal untuk memberikan alarm alami pada anak saat ingin buang air kecil. Sehingga, seringkali anak tidak menyadari dirinya ingin kencing sampai air seninya keluar begitu saja tanpa peringatan.

Ketika anak masih kecil dan menggunakan popok, kebiasaan mengompol anak tentu belum menjadi masalah besar. Orangtua baru akan menyadari kesulitan yang sebenarnya ketika melatih anak untuk lepas dari ketergantungan popok. Pada minggu-minggu awal penerapan “lepas popok” ini, orangtua perlu ekstra sabar menghadapi anak yang bisa pipis di sembarang tempat, siang atau malam.

Seiring perkembangan usia anak, biasanya kebiasaan mengompol juga akan berkurang sedikit demi sedikit. Apalagi dengan semakin terbiasanya anak untuk menyadari alarm tubuh mereka agar pergi ke kamar kecil. Orangtua juga perlu lebih sabar mendampingi si kecil dalam melatih tubuh mereka. Kebiasaan mengompol ini bisa berlangsung hingga anak berusia 6-7 tahun. Apabila pada usia lebih dari itu anak masih mengompol, harus dilakukan penanganan lebih lanjut. Berikut beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan orangtua dalam melatih anak agar tidak mengompol lagi.

Jangan marah. Hindari memarahi anak yang masih mengompol. Kemarahan orangtua bisa memicu ketakutan anak dan memengaruhi anak sehingga bisa menjadi sosok yang kurang percaya diri.
Biasakan minum. Biasakan anak untuk minum sekitar 30 menit sebelum tidur dan kemudian mengajaknya ke kamar mandi untuk buang air kecil sebelum tidur. Selain itu, orangtua sebaiknya membatasi anak agar tidak minum  berlebihan pada malam hari. Hindari pula memberi anak minuman yang bersifat diuretik (merangsang pengeluaran urin) seperti susu coklat dan soda, terutama pada malam hari.
Berlatih bangun. Latih anak agar terbangun di malam hari, lalu bawa ke kamar kecil. Lakukan ini terutama pada waktu-waktu ketika anak biasa mengompol. Jika tidak mengetahui waktu yang pas, anak bisa dilatih untuk bangun 3-4 jam setelah dia mulai tidur pada malam hari. Dengan begitu, lama-lama anak akan terbiasa bangun sendiri ketika merasa ingin pipis meskipun di malam hari.
Beri pengertian. Walau banyak yang menyarankan untuk memberi anak hadiah sebagai stimulasi agar berhenti mengompol, hal ini sebaiknya jangan diterapkan. Alangkah lebih baik jika Anda, sebagai orangtua, mendampingi anak dalam mengatasi masalahnya. Sering-seringlah mengajak anak bicara mengenai pentingnya buang air kecil sendiri di kamar mandi. Apalagi ketika anak mulai memasuki jenjang sekolah.
Jangan panik. Apabila hingga usia 7 tahun anak masih tetap mengompol, tidak perlu panik. Perkembangan anak memang berbeda-beda. Anda bisa mencoba terapi untuk anak. Selain itu, Anda juga bisa mencoba berkonsultasi ke dokter jika diperlukan penanganan lebih lanjut. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments