foto1705

Pentingnya Ajari Anak Mengenal Emosi

Emosi bukan soal sepele. Ia memiliki tingkat kecerdasan juga. Dengan melatih anak untuk mengenal berbagai emosi, ia akan bisa memiliki kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini, disebut-sebut sebagai faktor penting dalam meraih kesuksesan. Bahkan ada yang mengatakan kecerdasan emosional lebih penting dibanding kecerdasan intelektual, lho.

Anak, terutama balita, belum bisa memahami emosi yang ia alami. Akibatnya, mereka bisa mengungkapkannya dalam bentuk yang kurang tepat, seperti ledakan emosi yang berlebihan, menangis keras, menjerit, atau malah marah.

Anda, sebagai orang tua, sebaiknya mengenalkan berbagai emosi, marah, sedih, sayang, kasihan, dan lain-lain pada anak. Dengan mengenali emosi tersebut, anak sedikit demi sedikit bisa memahami diri mereka sendiri, dan mengekspresikannya dengan tepat. Mereka pun bisa lebih berempati terhadap emosi orang lain.

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengajari anak mengenali emosi mereka.

Melatih kepekaan. Ini untuk Anda, para orang tua. Ketika anak mulai menunjukkan gerak-gerik dan sikap tak biasa, sebaiknya cepatlah tanggap. Bisa jadi anak merasa sedih dan kecewa ketika adiknya merebut mainan kesayangannya. Begitu juga ketika anak tiba-tiba tidak mau makan dan melempar makanannya. Dekatilah anak ketika tenang, lalu tanyakan dengan sabar tentang hal yang mengganggunya.

Kenalkan jenis-jenis emosi pada anak. Ketika anak sedang marah karena mainannya direbut, beri pemahaman tentang emosi tersebut. Misalnya dengan berkata, “Oh, adik marah, ya, karena mainannya direbut.” Begitu pula dengan emosi lain, seperti sedih, takut, tersinggung, kecewa, dan sakit hati. Selanjutnya, doronglah anak untuk mengatakan emosi yang tengah ia alami dalam kondisi tertentu.

Dorong anak agar lebih banyak berbicara dan lebih terbuka. Memang, sifat anak berbeda. Anak  yang introvert mungkin agak susah untuk terbuka. Namun dengan sedikit kesabaran dan taktik, anak biasanya mau berbicara. Sebagai contoh, ketika anak merasa sedih, doronglah anak agar mau menceritakan hal-hal yang membuatnya bersedih. Membuat anak lebih terbuka atau membicarakan masalahnya akan mempermudah Anda sebagai orangtua untuk memberikan solusi atas masalah yang dihadapi anak.

Dengarkan anak saat bercerita. Ini hal yang sangat penting. Dengan mendengarkan apa isi hati anak, anak akan merasa tidak sendiri, ada dukungan yang ia dapatkan. Dengan didengarkan, anak juga akan merasa lebih dihargai dan lebih kuat secara emosi.

Memberikan solusi. Meskipun mendapatkan solusi, ajari anak untuk berperan serta dalalm menyelesaikan masalah. Biarkan anak belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Misalnya, setelah bertengkar dengan temannya, biarkan anak saling minta maaf dengan temannya. Anda hanya perlu mengawasinya dari jauh. Cara ini akan membantu melatih anak agar lebih mandiri.

Beritahukan pada anak, tidak semua keinginannya bisa dipenuhi. Ajarkan anak untuk mengenal kesabaran dan waktu yang tepat untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Ini akan membuat anak tidak bereaksi berlebihan ketika keinginannya belum terwujud.

Tekankan hal-hal positif pada anak mulai dari hal yang paling sederhana. Contohnya, tidak mengganggu ayah yang sedang bekerja lembur di rumah, mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan bantuan dari orang lain, dan tidak berebutan ketika mengantre.

Ajarkan tanggung jawab. Anak pun perlu diajarkan mengenai tanggung jawab atas perbuatannya. Contoh sederhananya, ketika anak sakit gigi karena lalai menggosok gigi, maka sebaiknya anak tidak lagi dibelikan permen dan cokelat. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments