foto1005

Lebih Memahami Anak Hiperaktif

Memiliki anak hiperaktif merupakan tantangan sendiri bagi orang tua. Kadang menguras energi dan emosi. Namun anak hiperaktif bisa memiliki potensi tersendiri. Asalkan Anda bisa mencoba lebih memahami mereka, dan memberi penanganan yang tepat sejak dini.

Bila anak Anda sangat aktif, berlarian ke sana kemari, bukan berarti mereka hiperaktif. Hiperaktif  adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas. Biasa disebut juga dengan attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Anak-anak ini biasanya sangat sulit untuk tenang, sulit berkonsentrasi, dan sering mengganggu orang lain. Mereka pun tidak sabar, bahkan untuk mendengarkan orang selesai bicara. Karena itu anak yang memiliki gangguan ini kerap memotong pembicaraan orang lain.

Menurut para ahli, penyebab hiperaktif adalah terjadinya kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak. Hal tersebut membuat rentang konsentrasi menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lain bisa karena temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, trauma pada kepala, serta epilepsi.

Anda sebagai orangtua perlu peka dalam melihat potensi anak yang hiperaktif dan turut aktif mengarahkan anak untuk mengembangkan talentanya. Peran serta orang tua ini terutama dibutuhkan di masa-masa emas anak sebelum memasuki jenjang sekolah. Langkah-langkah penanganan bisa jadi akan berbeda bagi setiap anak karena tiap anak mempunyai sifat-sifat lain di luar karakteristik yang hiperaktif.

1.Terima diri anak apa adanya
Langkah awal yang penting dilakukan dalam hal ini adalah penerimaan orangtua atas diri anaknya. Orangtua perlu menyadari bahwa buah hatinya memang perlu perhatian ekstra, bimbingan, arahan, agar anak bisa memanfaatkan kelebihan dalam dirinya.

2. Cari informasi sebanyak mungkin
Perkaya terus pengetahuan Anda tentang gangguan hiperaktif. Cari informasi mengenai apa yang boleh dan tidak boleh diberikan. Misalnya soal makanan yang dikonsumsi dan menata rumah agar terhindar dari benda-benda yang berbahaya seperti sambungan arus listrik dan sudut-sudut meja yang tajam.

3. Lebih sabar dan toleran, tetapi tetap tegas dan disiplin
Tak berbeda jauh dengan anak yang normal, anak hiperaktif juga perlu diajarkan tentang disiplin dan mengerjakan segala sesuatu dengan benar. Bedanya, orang tua harus lebih sabar dan tekun mengajari berulang-ulang karena anak hiperaktif mempunyai kecenderungan sulit berfokus pada satu hal dalam waktu lama karena pikirannya yang terus aktif. Berikan juga pujian kepada mereka bila berhasil melakukan hal yang baik, misalnya makan dengan tertib.

4. Tidak melabeli negatif
Meski hiperaktif, anak tetap memiliki perasaan yang kurang lebih sama dengan anak normal pada umumnya. Untuk itu, sebaiknya jangan memberikan label negatif pada anak meskipun kelakuan anak cukup unik. Tekankan dalam diri Anda bahwa anak adalah pribadi yang istimewa dan anak bisa mengerjakan banyak hal karena aktivitasnya yang tinggi.

5. Tetap terhubung dengan ahli/pakar
Saat ini, sudah banyak terapi, konsultasi, dan pendampingan yang bisa diberikan untuk membantu anak hiperaktif. Setiap sesi terapi memerlukan bimbingan khusus. Orang tua pun tetap perlu berkonsultasi kepada pakar psikologi anak untuk membimbing anak hiperaktif dan memaksimalkan potensi dalam diri anak.

6. Nasehati berulang

Ketika memberikan nasehat pada anak, katakan dengan jelas dan spesifik serta diulang-ulang. Dengan begitu anak dapat mudah memahami dan tidak menggunakan kekerasan.

7. Seleksi tontonan

Jaga anak agar tidak menonton tayangan TV, film, video, dan games yang bersifat kekerasan. Lebih baik beri ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments