foto1904

Membuat Anak Bangkit dari Keterpurukan

Meski sering dianggap sebagai masa yang paling membahagiakan, namun masa kanak-kanak bisa juga kelam. Saat anak terpuruk karena suatu masalah, Anda harus bisa membangkitkan lagi mentalnya agar kembali ceria.

Seorang anak bisa mengalami keterpurukan atau kondisi mental di bawah karena beragam sebab. Mulai dari kekecewaan besar, kekerasan fisik dan psikis, dan trauma. Sebagai orangtua, Anda perlu peka memahami kondisi anak. Untuk itulah, anak perlu mengalami resiliensi.

Resiliensi atau resilience adalah proses kemampuan diri seseorang untuk bangkit lagi setelah mengalami kejatuhan atau tekanan hidup yang berat dan menjadi lebih kuat. Masalah anak-anak mungkin tidak sekompleks orang dewasa. Namun, bukan berarti anak-anak tidak pernah mengalami masalah sesuai dengan usianya.

Penyebab dan tanda-tandanya

Bila disebutkan, ada beberapa permasalahan yang dihadapi anak-anak yang dapat menyebabkan tekanan mental dan gangguan psikis. Selain yang telah disebutkan tadi, permasalahan lainnya adalah menjadi korban bullying, pertengkaran orangtua hingga berujung perceraian, mengalami sakit parah hingga keluar masuk rumah sakit selama berbulan-bulan, atau pelecehan seksual. American Psychology Association (APA) juga menyebutkan, permasalahan lainnya antara lain kehilangan seseorang yang sangat dekat seperti keluarga inti.

Bagaimana cara mengenali anak yang mengalami trauma atau dalam kondisi down? Gejalanya tak ubahnya seperti depresi yang dialami oleh orang dewasa. Contohnya, kehilangan nafsu makan, enggan melakukan aktivitas tertentu, menutup diri, tidak mau berbicara dengan orang lain, suka membantah berlebihan, tantrum, atau justru reaksinya terlalu emosional dalam menanggapi sesuatu.

Jika merasa anak menunjukkan gerak-gerik mencurigakan atau tak biasa, sebaiknya dekati anak dan tanyakan dengan sabar tentang persoalan yang dihadapinya. Namun, jika anak tetap menutup diri, ada kalanya Anda perlu orang lain yang membuat anak nyaman berbicara atau berkonsultasilah dengan psikolog anak.

Tumbuhkan resiliensi

Situs web Psychologytoday.com menyebut, ada beberapa hal yang membuat anak dapat melalui proses resiliensi. Beberapa di antaranya adalah kemampuan dalam mengelola emosi, melihat masalah agar bisa meminta tolong pada orang lain, dan perilaku yang positif.

Untuk menumbuhkan resiliensi pada anak, sebaiknya kenali dulu faktor pemicunya. Apabila faktor pemicu berasal dari dalam keluarg dan melibatkan keluarga inti, sebaiknya perbaiki terlebih dulu kondisi dalam keluarga. Jika permasalahan di luar keluarga, misalnya pergaulan, sebaiknya segera lakukan langkah solutif seperti membantu anak untuk berdamai dengan temannya atau membawa permasalahan kekerasan ke ranah hukum.

Akan tetapi, yang paling penting adalah menguatkan kembali mental atau kondisi psikis anak yang terpuruk. APA memaparkan sejumlah langkah yang bisa dilakukan. Pertama, semakin merekatkan hubungan anak dengan orang-orang terdekatnya seperti keluarga dan teman-temannya. Kedua, membantu mengubah sudut pandang anak dalam memandang masalah. Anak bisa diajarkan untuk melihat sisi positif dari suatu masalah dan mengajak anak untuk memandang lebih jauh ke depan setelah masalah usai.

Ketiga, memberikan pemahaman pada anak bahwa kejadian buruk bisa menimpa siapa saja. Namun, setelah masalah usai, ada sesuatu yang baik di depan yang menanti. Keempat, mendukung anak untuk bangkit dan berani melangkah maju serta melupakan apa yang di “belakang” atau permasalahan sebelumnya. Terakhir, menjaga anak agar selalu positif dalam menjalani hidup dan menyadarkan anak bahwa ia tidak berjalan sendirian. Selalu ada orang yang di sampingnya untuk menjaga dan mendukungnya sehingga anak tidak perlu takut lagi. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments