foto6(1)

Minggu Ceria Bersama Anak-anak Istimewa

Anak selalu memberi guratan warna pada kehidupan. Begitu pula dengan anak-anak yang istimewa. Bintaro memiliki banyak anak istimewa yang mempunyai bakat luar biasa. Ini terbukti pada acara yang diselenggarakan oleh Etalase Bintaro (EBIN) dan Komunitas FB Bintaro.

Minggu (16/4) pagi, suasana Gramedia World Bintaro tak seperti biasanya, lebih berseri. Beberapa anak tampak malu-malu tapi penuh rasa ingin tahu, mendekati bibir Panggung Anak yang berlokasi di lantai 2. Hari itu, bersama dengan Komunitas FB Bintaro, EBIN menggelar acara Bintaro Berwarna Anak Spesial (BBAS). Acara yang didedikasikan untuk anak-anak seputaran kawasan Bintaro.

Acara untuk anak-anak memang sudah jamak, namun BBAS ini terasa lebih spesial, karena pengisi acara sebagian besar adalah anak-anak istimewa atau anak berkebutuhan khusus (ABK). Mereka membuat acara ini jadi lebih berwarna.

Dari belajar sains hingga seni

Sekitar pk. 11, Kak Jean, MC, memanggil Kak Yudi dari Sains Academy (gambar atas) untuk mengajak anak-anak melakukan percobaan sains. Anak-anak dengan takjub melihat gelas plastik berisi air kemudian digantung dengan tali rafia, tidak tumpah ketika diputar-putar. Bahkan balon yang ditusuk dengan tusuk sate tidak pecah. “Bukan sulap, tapi sains,” itulah semboyan Kak Yudi.

Dita asyik menggambar komik.

Setelah itu, Dita, anak istimewa namun memiliki bakat luar biasa dalam menggambar, mempertunjukkan keahliannya dalam membuat komik. Dengan asyik Dita menyoret-nyoret selembar kertas sambil dikerubungi oleh anak-anak. Tak berapa lama sebuah gambar yang bercerita sudah selesai ia kerjakan.

Siang hari, acara dibuat makin “panas” oleh penampilan anak-anak dari Rumah I’m Star. Suara Mella, Ilham, Abhy, dan teman-temannya membuat pengunjung ikut bergoyang. Terutama ketika lagu Laskar Pelangi didendangkan oleh mereka.

Penampilan anak-anak dari Rumah I’m Star.

“Tuhan tidak salah desain. Meskipun awalnya saya sempat bingung karena memiliki anak yang spesial, pada akhirnya saya menyadari keistimewaan dalam diri anak saya,” ungkap Ning Nathan, penulis buku Tuhan Tidak Salah Desain yang turut mengisi acara bincang santai hari itu. Ning Nathan membagikan pengalamannya dalam mendidik dan mengasuh anak istimewa.

Perjalanannya dalam menemukan pola asuh yang tepat itu dituangkannya dalam sebuah buku. Ning berharap, lewat bukunya tersebut setiap orang tua, terutama orang tua yang memiliki anak istimewa dapat memberikan pola asuh yang terbaik bagi anak-anak mereka. Sehingga anak-anak dapat berkembang sebagaimana mereka adanya. “Ada enam metode dalam buku ini yang bisa diterapkan dalam pengasuhan anak,” ujar pendiri Revive Institute, organisasi yang berfokus pada pengembangan remaja dan pemberdayaan anak berkebutuhan khusus.

Bu Ning sedang berbagi ilmu.

Setelah acara bincang santai, panggung kembali dihangatkan oleh alunan musik saksofon dari Arya dan Abhy, anak Rumah I’m Star. Mempelajari saksofon selama dua tahun, Arya bersama Abhy mampu mempersembahkan lagu Justin Bieber untuk menghibur setiap pengunjung di Gramedia World Bintaro dengan alunan melodi yang indah.

Duet saksofon yang indah.

Selanjutnya, pendiri Rumah I’m Star yaitu tiga orang ibu, Indah, Dewi, dan Unun, berbagi pengalaman mereka dalam mendirikan Rumah I’m Star. Mereka mengungkapkan, setiap anak berkebutuhan khusus memiliki bakat dan talentanya sendiri. Anak-anak ini pun perlu bekerja sama dan memadukannya agar lebih mandiri di kemudian hari. Rumah I’m Star mendorong anak berkebutuhan khusus untuk aktif dan produktif. Mereka pun turut memasarkan produk-produk yang dihasilkan dari anak berkebutuhan khusus.

Thomas (baju merah) mengajari adik-adik cara membuat kupu-kupu dan burung dari kertas.

Lain halnya dengan Thomas. Tangannya yang lincah dan cekatan membuatnya seakan tak lelah berkreasi dengan Origami. Tidak hanya mempelajari Origami dari Youtube, remaja istimewa ini juga menciptakan Origami kreasinya sendiri. Dalam Bintaro Berwarna Anak Spesial, Thomas pun berbagi ilmunya dalam mengkreasikan beragam bentuk Origami. “Melipat ternyata bikin tenang ya, seperti terapi buat saya,” ujar Prima, salah seorang ibu yang turut mencoba melipat bersama Thomas. [KUL/YBI]

 

Foto-foto: Etalase Bintaro/Nikikula

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments