foto1204

Kiat Ajari Anak Mengelola Emosi

Kemampuan anak untuk dapat mengelola emosinya sangatlah penting. Dengan memiliki pengelolaan emosi yang baik, anak bisa lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Pengelolaan emosi juga bermanfaat bagi pergaulan dan masa depan anak.

Sebagai orangtua, mungkin kita berpikir anak mempunyai kebebasan dalam berekspresi. Atau justru sebaliknya, semua perilaku dan kata-kata anak harus dikontrol. Padahal, keduanya kurang tepat. Sedari awal, anak perlu diajari tentang emosi-emosi dalam dirinya serta bagaimana mengelolanya dengan baik. Sebutannya, self regulation.

Menurut Childmind.org, self regulation adalah kemampuan untuk mengatur emosi dan perilaku agar sesuai dengan situasi. Termasuk di dalamnya, anak mampu mengatur reaksi emosi seperti untuk menenangkan diri atau mengelola rasa frustrasi. Kemampuan ini akan bermanfaat ketika anak beranjak dewasa ketika mengelola diri sendiri dalam meraih tujuannya.

Sejak dini

Sebenarnya, self regulation ini tidak hanya bermanfaat bagi anak ketika dewasa. Ketika memasuki lingkungan pertemanan atau pergaulan, anak yang memiliki self regulation akan mampu mengenali dan mengemukakan emosinya dengan baik. Begitu pula ketika anak memasuki dunia sekolah, kemampuan mengatur emosi dan perilaku diri sendiri akan mendukung pergaulannya.

Psikolog di Klinik Psikologi Pelangi, Reneta Kristiani, MPsi menuturkan, sebaiknya self regulation diajarkan sejak dini agar anak mampu memahami dan mengontrol dirinya sendiri. Caranya bisa dengan memperkenalkan emosi dasar sehingga anak mengetahui dirinya sendiri ketika sedang marah, sedih, kesal, takut, atau senang.

Untuk menumbuhkembangkan self regulation pada anak, peran orangtua sangat esensial. Anak biasanya meniru hal-hal yang dilakukan orangtuanya. Jika Anda ingin mengajarkan tentang self regulation pada anak, maka terapkanlah self regulation pada diri Anda sendiri lebih dulu. Selain itu, orangtua perlu lebih peka dan proaktif dalam memahami dan menghadapi sikap anak. Kedua orangtua juga perlu kompak dan konsisten dalam mengasuh dan melatih kemampuan anak, salah satunya self regulation ini.

Sebenarnya, mengajarkan self regulation pada anak bisa dimulai dari berbagai hal yang sederhana. Neta, sapaan akrab Reneta, memberikan beberapa contohnya. “Misalnya, saat anak memegang erat tangan ibu dan tidak mau lepas dari ibunya, ibu bisa mengatakan, ‘oh, adik takut ya? Ibu nggak ke mana-mana kok, ibu selalu ada bersama adik.’ Saat anak menangis karena keinginannya tidak langsung dipenuhi, orangtua dapat mengatakan, ‘adik kesal ya karena nggak dituruti. Ayah mengerti adik kesal, tapi maaf ya, ayah tetap tidak bisa memenuhi keinginan adik itu. Yuk, kita main yang lain saja!’,” jelas Neta.

Mengurangi tantrum

Neta mengatakan, orangtua perlu mengajarkan perlahan pada anak tentang cara mengelola emosinya. Selain itu, anak pun diajarkan untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata atau secara lisan. Luapan kemarahan yang destruktif seperti membanting barang atau menyakiti orang lain sebaiknya dihindari. Kemarahan adalah manusiawi. Namun, Neta menyarankan agar kemarahan diungkapkan dengan cara yang tepat tanpa merusak barang atau menyakiti orang lain.

“Beri tahu juga perasaan orangtua pada anak. Misalnya, ibu sedang sedih atau mama marah kalau kakak gangguin adik,” kata Neta.

Tantrum yang kerap terjadi pada sejumlah anak bukan berarti anak nakal dan membandel. Bisa jadi tantrum adalah cara anak mengungkapkan ekspresinya, tetapi anak tidak tahu cara menjelaskan perasaannya saat itu. Jika self regulation pada anak berkembang baik, gejala tantrum akan semakin minim karena anak bisa mengungkapkan emosinya dengan benar.

“Orangtua juga mesti konsisten dan tegas. Misalnya, saat anak tantrum, jangan langsung dituruti keinginannya. Nanti anak akan belajar bahwa tantrum efektif untuk dapat yang dia mau,” jelas Neta.

Ketika anak mengalami tantrum, Neta menyarankan agar orangtua lebih sabar dan menunggu agar anak menjadi tenang. Barulah setelahnya, orangtua bisa berbicara dengan anak tentang kelakuan, alasan di balik keputusan orangtua. Dengan begitu, anak pun akan belajar memahami maksud orangtua dan ke depannya diharapkan bisa mengungkapkan emosinya dengan baik. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Etalase Bintaro/Prasto

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments