05-April

Efek Negatif “Helicopter Parenting”

Helikopter yang berputar-putar di atas kepala dijadikan istilah bagi pola asuh anak yang terlalu mengawasi. Ternyata pola pengasuhan ini tak selamanya baik. Dalam jangka panjang bisa memberikan efek negatif pada anak.

Apa itu helicopter parenting? Dalam buku yang berjudul Parents & Teenagers terbitan tahun 1969, sang penulis Dr. Haim Ginott menggunakan istilah helicopter parent untuk menyebut orangtua yang selalu memantau anaknya terus-menerus seperti helikopter yang melayang-layang dan mengawasi sekitarnya (www.parents.com). Jika Anda masih asing dengan istilah helicopter parenting, mungkin Anda pernah mendengar tentang bulldoze parenting, lawnmower parenting, dan cosseting parent. Makna ketiganya hampir sama.

Wajar tapi…

Memantau aktivitas anak dalam keseharian sepertinya terdengar positif dan sepintas tidak ada yang salah. Apalagi melihat pergaulan anak dan remaja masa kini. Godaan perilaku negatif dari lingkungan pergaulan serta akses informasi tanpa batas dari internet bisa disalahgunakan jika tidak disaring. Wajar bila anak dan remaja harus diawasi dan benar-benar dipantau.

Sebagian orangtua menganggap, pengawasan dan perlindungan pada anak adalah sesuatu yang lumrah. Dalam helicopter parenting, orangtua pun cenderung bersikap melindungi dan bertanggung jawab pada kehidupan anak. Namun, pengawasan berlebihan, perlindungan terlalu banyak, serta mengharapkan anak menjadi sosok yang sempurna bisa membuat anak mengalami ketergantungan dan kurang mandiri.

Contoh sikap yang menjurus pada helicopter parenting cukup banyak. Di antaranya, mengatur cara anak dalam bersikap, memilihkan teman untuk anak, memasukkan anak ke dalam ekstrakurikuler sekolah tertentu, dan membantu anak ketika mengerjakan beragam tugasnya sehingga tugas anak menjadi lebih ringan. Intinya, dalam helicopter parenting, orangtua akan selalu menjaga, melindungi, membantu, dan mengawasi anak untuk memastikan, anak tidak akan mengalami sesuatu yang buruk.

Dalam jangka panjang, pola pengasuhan dengan helicopter parenting bisa berakibat buruk pada karakter anak. Anak bisa menjadi sosok yang penakut, tidak bisa mengambil keputusan, kurang percaya diri, mudah mengalami kekhawatiran dan depresi, selalu bergantung pada orangtua, serta tidak bisa mengerjakan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan sendiri.

Kenali pemicunya

Faktor pemicu helicopter parenting ini cukup banyak. Rasa sayang yang berlebihan pada anak dan ketidaktahuan orangtua tentang pola asuh yang tepat adalah beberapa penyebabnya. Selain itu, helicopter parenting juga bisa dipicu akibat rasa kekhawatiran orangtua yang berlebihan pada kondisi lingkungan sosial yang menjadi lokasi pergaulan dan tumbuh-kembang anak.

Tidak hanya itu, orangtua pun tanpa sadar menerapkan helicopter parenting karena mengingat masa kecilnya yang kurang mendapatkan perhatian dari orangtuanya (kakek-nenek). Sebagai “pembalasan”, orangtua pun memperlakukan anak berlebihan, baik dengan alasan menyayangi maupun melindungi. Bisa juga helicopter parenting diterapkan karena lingkungan pergaulan orangtua juga dipenuhi pola asuh helicopter parenting.

Untuk mengatasinya, cobalah membuka mata. Jika anak terbiasa dimanjakan, diawasi, dan dijaga, karakter anak akan semakin lemah ketika dewasa. Cobalah memberikan kepercayaan pada anak. Biarkanlah anak bebas memilih teman sepergaulannya. Bebaskan anak memilih ekstrakurikuler yang dia suka.

Bagaimana jika anak gagal dalam pelajaran? Tidak masalah. Kegagalan bisa terjadi pada siapa saja. Jika anak gagal dalam meraih prestasi, tidak perlu anak dituntut untuk menjadi sempurna. Paling penting, biarkanlah anak bahagia dengan pilihannya, mampu memperjuangkan hal yang disuka, dan menerima konsekuensinya. Meskipun hal ini terkadang menyakitkan bagi anak, hal ini akan memperkuat karakternya di masa depan. [KUL]

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments